Tak Berkategori

Masjid Dhirar, Masjid Tafriq

Masjid Dhirar, Masjid Tafriq

Hari Sabtu kemarin saya diundang untuk menghadiri kajian yang membahas masalah Sertifikasi Ulama. Dalam kajian tersebut disinggung soal masjid plat merah. Yang dimaksud adalah masjid milik lembaga pemerintahan seperti masjid yang ada di Departemen Migas, Keuangan, dll. Setelah selesai memberikan makalah, sayapun menanyakan masjid plat merah kaitannya dengan surah At Taubah:107 yang menyinggung masjid dhirar.

Sebenarnya kalau diijinkan, saya akan menanggapi isi ceramah. Namun, mengingat saya cuma sebagai tamu yang diundangan untuk mendengarkan dan bertanya, ya sudahlah, saya hanya bertanya saja.
Pertanyaan saya adalah, apakah Surah At Taubah:107 adalah pelarangan untuk khutbah di masjid plat merah?

Dia menjawab bahwa masjid plat merah tidak bisa dikategorikan sebagai masjid dhirar. Menurutnya, dia tidak menemukan bukti masjid plat merah digunakan sebagai tempat pengkufuran, perusakan dan pemecah belahan ummat.

Saya bertanya bukan berarti saya tidak paham soal ini. Saya hanya ingin tahu bagaimana soal masjid dhirar dari sudut pandang seorang tokoh pusat sebuah organisas politik islam.

Apa itu Masjid Dhirar?

Untuk memahami arti masjid dhirar, mari kita perhatikan firman Allah berikut:

وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مَسْجِدًا ضِرَارًا وَكُفْرًا وَتَفْرِيقًا بَيْنَ الْمُؤْمِنِينَ وَإِرْصَادًا لِمَنْ حَارَبَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ مِنْ قَبْلُ ۚ وَلَيَحْلِفُنَّ إِنْ أَرَدْنَا إِلَّا الْحُسْنَىٰ ۖ وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ

Dan ada orang-orang yang mendirikan masjid untuk menimbulkan kemudharatan, untuk kekafiran dan untuk memecah belah antara orang-orang mukmin serta menunggu kedatangan orang-orang yang telah memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu. Mereka Sesungguhnya bersumpah: “Kami tidak menghendaki selain kebaikan”. Dan Allah menjadi saksi bahwa sesungguhnya mereka itu adalah pendusta.

Politik Masjid

Saya heran, bagaimana mungkin seorang yang suka bicara politik di masjid tidak memahami politik masjid. Apakah dia masih percaya kalau ada penguasa zalim membangun masjid tidak ada apa apanya? Apakah dia masih percaya bila masjid itu dibangun penguasa sekular untuk menciptakan generasi tauhid (muwahhid) seperti yang dikehendaki Allah?

Jawabannya pastilah tidak.

يُرِيدُونَ لِيُطْفِئُوا نُورَ اللَّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَاللَّهُ مُتِمُّ نُورِهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ

Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut mereka, tetapi Allah menyempurnakan cahaya-Nya, walau orang-orang kafir membencinya.

Jadi, kalau penguasa zalim mengeluarkan dana besar untuk membangun banyak masjid, pastilah ada harga yang harus dibayar oleh ummat. Dan harga itu adalah mengorbankan agama Saudara yang benar, yang murni (dinul haq, dinul khalish) dan menggantinya dengan agama yang salah, agama yang tercemar, yaitu agama penguasa (dinul malik)

Melalui program sertifikasi ulama, hal ini menjadi sangat jelas. Penguasa ingin menjadikan masjid sebagai media politik untuk membentengi ummat dari paham paham yang murni (fondamental, radikal) dan menggantinya dengan faham yang rusak seperti Islam moderat (jalan tengah, kompromi, toleran), pluralisme (kemajemukan), dll.

Inilah yang dikehendaki para penguasa zalim. Mereka ingin mencemari ajaran agama Allah dengan kotoran demokrasi, Islam moderat dan sejenisnya sehingga ummat tidak lagi peduli dengan ajaran Rabbinya. Bila ini terjadi, maka kerusakan (dhirar)lah akibatnya. Karenanya, masjid yang dibangun penguasa seperti ini, yang oleh pembicara disebut masjid plat merah, dapat dipastikan dalam kategori masjid dhirar.

Masjid plat merah adalah awalnya. Kini, masjid masjid yang dibangun secara swadaya oleh masyarakat ingin dijadikan sebagai masjid dhirar melalui sertifikasi ulama.

Masjid Tafriq

Di atas adalah penjelasan tentang masjid dhirar. Masjid dhirar adalah salah satu sebutan untuk masjid yang dibina oleh penguasa zalim. Ada julukan lain, tapi kurang populer, yaitu Masjid Kufr, Masjid Tafriq dan Masjid Irshad.

Di sini hanya akan dibahas tentang Masjid Tafriq. Mengapa saya menyebut istilah Masjid Tafriq? Masjid Dhirar diambil dari kata ‘masjidan dhiraaran’ pada ayat At Taubah:107. Karena di ayat itu juga menyebut kata ‘masjidan…tafriiqan,’ maka saya namakan saja Masjid Tafriq

Kata tafriq berasal dari kata fa-ra-qa. Dari kata ini bisa terbentuk kata far-ra-qa, fir-qah, fi-raaq, mu-ta-far-riq, dsb.

Kata tafriq yang dimaksud dalam ayat itu memiliki beberapa makna, yaitu:

1. (intransitif) berpecah belah, bercerai berai, berfirqah firqah atau (transitif) memecah belah, mencerai beraikan, menjadikan berfirqah firqah.

Pengertian ini ada dalam ayat ayat berukut:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.

مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا ۖ كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ

yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.

 

2. memisahkan, menyimpangkan, menyesatkan:

وَأَنَّ هَٰذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ۚ ذَٰلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

dan bahwa ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (lain) karena jalan-jalan itu memisahkan (menyimpangkan, menyesatkan) kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.

3. memotong motong,  mengkotak kotakkan

فَتَقَطَّعُوا أَمْرَهُمْ بَيْنَهُمْ زُبُرًا ۖ كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ

Kemudian mereka menjadikan agama mereka terkotak kotak. Tiap-tiap golongan (kotak) merasa bangga dengan apa yang ada pada sisi mereka.

Bila kita amati, kata kotak kemungkinan besar berasal dari kata قطع (qo-tho-‘a). Secara bunyi, tulisan dan makna, kata qo-tho-‘a bersesuaian dengan kata kotak. قطع berarti memotong. قطعوا امرهم berarti memotong urusan (agama) mereka. Ini arti lain dari فرقوا دينهم 

Dari uraian di atas, dapat kita simpulkan: Masjid Tafriq adalah masjid yang diperuntukkan untuk:

  1. memecah persatuan atau kesatuan ummat (ummatan wahidatan);
  2. memisahkan ummat dari jalan yang benar;
  3. mengkotak kotakkan ummat.

Bagaimana caranya? Ya dengan merusak akidah ummat dengan jalan

  1. memberikan citra yang buruk terhadap tokoh muwahhid atau tokoh mujahid. Misalnya melabeli mereka dengan stempel khawarij, takfiri, teroris. Atau mengatakan kepada ummat bahwa kelompok anu hanya memperalat agama untuk kepentingan kekuasaan. Atau Daulah Islamiah adalah bentukan Amerika;
  2. mengkotak kotakkan ummat. Maksudnya memasukkan ummat kedalam kotak sehingga terlindung dari cahaya (nur Ilahi) dan tetap dalam kegelapan;
  3. menanamkan pandangan hidup yang sesat, yang bertentangan dengan jiwa tauhid.

 Indikator Masjid Dhirar (Tafriq)

Allah melarang seorang muwahhid untuk berdiri di dalam masjid dhirar. Bahkan dalam riwayat, Nabi memerintahkan para sahabat untuk menghancurkan masjid itu. Lebih jelasnya bisa Saudara baca dalam tafsir Ibnu Katsir surah At-taubah Taubah:107. Sekarang masalahnya, bagaimana kita tahu ini masjid dhirar atau bukan. Adakah indikatornya?

Dengan memahami ayat di atas, kita akan tahu bahwa masjid dhirar indikatornya adalah:

  1. dibangun oleh penguasa zalim (thaghut), baik oleh tingkat atas maupun bawah;
  2. dibangun oleh firqah;
  3. DKM-nya di bawah pimpinan atau lindungan anshar thaghut;
  4. membungkam suara tauhid;
  5. menyuarakan as subula (jalan jalan lain): toleransi, demokrasi, pluralisme;
  6. subur dengan ajaran bid’ah (inovasi).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s