Tak Berkategori

Benarkah Ummi Berarti Buta Huruf?

Arti “Ma ana bi qori.”

Golongan yang berpendapat Rasulullah Muhammad buta huruf berargumen dengan cerita Beliau di gua Hira sewaktu menerima wahyu pertama.

Pada suatu hari, Beliau dikejutkan dengan datangnya Malaikat pembawa wahyu, Ialu berkata, “Bacalah!”
Beliau menjawabnya, “Ma ana bi qari,” yang biasa diterjemahkan: “Aku tidak bisa membaca.”

Yang perlu dikaji ulang, apakah benar arti “ma ana bi qari” seperti itu sehingga dipahami kalau Nabi Muhammad buta huruf.

Pertama, kita kaji dulu apa arti kata baca.

Dalam KBBI dijelaskan arti baca:
1. melihat dan memahami tulisan;
2. melafalkan tulisan;
3. mengetahui, memahami.

Pembaca berarti:
1. orang yang membaca;
2. orang yang berbakat, hobi, berprofesi membaca

Setelah kita tahu arti kata baca dengan benar, maka kita bisa memahami apa yang dimaksud dengan ucapan Nabi: “Ma ana bi qori” dengan tepat.
Secara harfiah, kalimat “ma ana bi qori” seharusnya diterjemahkan: “saya BUKAN SEORANG PEMBACA,” bukannya: “saya tidak bisa membaca.”

Oleh karena itu, yang dimaksud dengan ucapan Nabi tersebut adalah bahwa beliau bukanlah seorang pembaca (dalam arti orang yang suka membaca).

Ini didasari keterangan Allah dalam surah Al Ankabut:48

وَمَا كُنْتَ تَتْلُو مِنْ قَبْلِهِ مِنْ كِتَابٍ وَلَا تَخُطُّهُ بِيَمِينِكَ ۖ إِذًا لَارْتَابَ الْمُبْطِلُونَ

Dan KAMU TIDAK PERNAH MEMBACA sebelumnya sesuatu Kitabpun dan kamu tidak menulis suatu Kitab dengan tangan kananmu; andaikata begitu, benar-benar ragulah orang yang mengingkari(mu).

Meski Beliau bukan pembaca, bukan berarti Beliau “orang yang tidak bisa membaca.”
Sebagai illustrasi, misalkan Saudara seorang Cameraman. Suatu saat si pembaca berita tidak hadir dan Saudara disuruh membacakan berita. Lalu Saudara berkata: “Maaf, saya bukan pembaca berita.”
Pertanyaanya: apakah itu berarti Saudara buta huruf? Jawabannya pasti tidak. Bukan begitu? Bahkan jika Saudara mengatakan: “Saya tidak bisa membacakan berita.” tidak menunjukkan Saudara buta huruf. Apa yang Saudara maksud dengan kata “saya tidak bisa membacakan berita” adalah Saudara bukan orang yang memiliki kemampuan (skill) untuk membacakan berita, meski Saudara bisa membaca dan menulis.

Kembali ke ucapan Nabi “ma ana bi qori.” Yang dimaksud ialah Nabi bukanlah seorang yang biasa membaca kitab, seperti yang Allah jelaskan di surah Al Ankabut di atas. Sehingga ketika beliau disuruh membaca, Beliau bilang: “saya bukan pembaca” dalam artian “saya tidak suka (biasa) membaca.”

Membaca juga punya arti lain, yaitu menyatakan. Dan sangat menarik ketika saya menemukan terjemahan Yusuf Ali surah Al Alaq ayat pertama sbb.:

Proclaim! in the name of thy Lord and Cherisher, Who created.

Terjemahan ini tidak salah. Untuk level anak TK, SD, dan Sekolah lanjutan, membaca berarti mengucapkan huruf atau kalimat. Untuk level anak kuliahan, membaca berarti memahami ide yang ada dalam kata-kata. Untuk level yang tinggi, membaca berarti mengemukakan fakta, data, bukti, realita yang ada.
Bagaimana Saudara memahami arti membaca dapat memperlihatkan Saudara ada di level mana.

Dalam konteks ini, maka ucapan Nabi bisa juga berarti “saya tidak bisa mengemukakan fakta (kebenaran).” Karena Nabi selama ini tidak pernah membaca Al Kitab, maka beliau tidak mengetahui fakta (apa yang benar). Karenanya, ketika disuruh membaca (mengemukakan kebenaran), beliau berkata “ma ana bi qori” dalam pengertian “saya tidak bisa mengemukakan kebenaran.” Mengapa tidak bisa ? Karena Beliau sendiri bingung.

وَوَجَدَكَ ضَالًّا فَهَدَىٰ

Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk.

Inilah jawaban yang jujur. Nabi tidak tahu dan Nabi tidak sok tahu dengan membacakan apa yang tidak pernah Beliau baca.

Kerancuan Ummi Diartikan Buta Huruf.

Banyak hal yang tidak bisa dijelaskan bila ummi diartikan buta huruf. Disamping sangat bertentangan dengan fakta ayat maupun sejarah, pemahaman ini tidak logis.

1. Tidak ada ayat yang dengan tegas menyatakan Nabi Muhammad buta huruf. Ayat yang tegas maksudnya dengan jelas menggunakan kata “tidak bisa membaca.” Kalaupun ada ayat yang menggunakan kata-kata “tidak bisa….,” tidak bisa diterjemahkan secara lahiriah.

Contohnya:

الَّذِينَ كَانَتْ أَعْيُنُهُمْ فِي غِطَاءٍ عَنْ ذِكْرِي وَكَانُوا لَا يَسْتَطِيعُونَ سَمْعًا

yaitu orang-orang yang matanya dalam keadaan tertutup dari memperhatikan tanda-tanda kebesaran-Ku, dan adalah mereka TIDAK BISA MENDENGAR.

Kata “tidak bisa mendengar” bukan berarti tuli secara lahiriah. Tidak bisa mendengar di sini berarti TIDAK MAU MENDENGAR.

بَشِيرًا وَنَذِيرًا فَأَعْرَضَ أَكْثَرُهُمْ فَهُمْ لَا يَسْمَعُونَ

yang membawa berita gembira dan yang membawa peringatan, tetapi kebanyakan mereka berpaling, tidak mau mendengarkan. 41:4

2. Allah tidak akan memerintahkan sesuatu yang tidak mampu dilaksanakan hamba-Nya. Allah berfirman:

وَلَا نُكَلِّفُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا ۖ وَلَدَيْنَا كِتَابٌ يَنْطِقُ بِالْحَقِّ ۚ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ

Kami tiada membebani seseorang melainkan menurut kemampuannya, dan pada sisi Kami ada suatu kitab yang membicarakan kebenaran, dan mereka tidak dianiaya.

Allah memerintahkan Nabi Muhammad untuk bangun dan memberi peringatan, pastilah nabi mampu untuk bangun dan memberi peringatan.
Allah memerintahkan Nabi Muhammad untuk hijrah, berjihad, dan berperang, pastilah Nabi mampu untuk berhijrah, berjihad dan berperang. Nabi diperintah apapun, sudah pasti Allah tahu bahwa Nabi sanggup melakukannya.
Logikanya, ketika Allah memerintahkan untuk membaca, pastilah Nabi Muhammad mampu membaca secara lahiriah.

Adalah hal yang mustahil bagi-Nya memerintahkan sesuatu yang tidak bisa dilaksanakan oleh orang yang diperintah.

Ini seperti contoh Cameraman yang disuruh membacakan berita. Pemimpin produksi yang cerdas tidak akan mempercayakan si Cameraman menggantikan si Pembaca berita yang berhalangan karena tahu dia tidak punya kapabilitas untuk tugas ini. Kalau ini dilakukan, si Cameraman bukan orang yang jujur dan si manager bukan orang yang bijak.

Andaikata kita menganggap Nabi Muhammad buta huruf, ini sama saja menganggap Allah tidak tahu dan tidak bijak. Logikanya, kalau benar Nabu buta huruf, maka ayat pertama yang diturunkan bukan perintah untuk membaca, melainkan perintah untuk belajar tulis baca.

3. Bertentangan Dengan Fakta Ayat Dan Sejarah

Jika ummi diartikan buta huruf, ini tidak sesuai dengan fakta. Faktanya, sebelum kelahiran Nabi bangsa Arab sudah dikenal kecakapannya di bidang sastra. Ada banyak acara perlombaan pembacaan syair dan karya syair terbaik akan digantung di dinding Kabah.

Umar bin Khattab seorang yang bisa tulis baca. Dalam sirah, awal keislamannya dimulai ketika dia melihat skrip yang di dalamnya tertulis surah Thaha. Skrip itu ada di rumah adiknya. Artinya bukan hanya Umar yang bisa baca tulis. Di situ ada Fatimah, ada Said bin Zaid suaminya, ada Khabbab Bin Arats.
Bagaimana dengan Siti Khadijah? Mungkinkah seorang bangsawan lagi pengusaha tidak bisa membaca?
Bagaimana juga dengan Abu Bakr, Usman, Abdur Rahman bin Auf….. Apakah masih dianggap buta huruf?
Buta agama waktu masih jahil memang. Tapi buta huruf non sense (tidak bisa diterima akal sehat).

4. Banyak ayat yang menceritakan orang sekitar Nabi Muhammad bisa membaca.

فَإِنْ كُنْتَ فِي شَكٍّ مِمَّا أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ فَاسْأَلِ الَّذِينَ يَقْرَءُونَ الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكَ ۚ لَقَدْ جَاءَكَ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِينَ

Maka jika kamu (Muhammad) ragu-ragu tentang apa yang Kami turunkan kepadamu, maka tanyakanlah kepada ORANG-ORANG YANG MEMBACA KITAB sebelum kamu. Sesungguhnya telah datang kebenaran kepadamu dari Tuhanmu, sebab itu janganlah sekali-kali kamu temasuk orang-orang yang ragu-ragu. (Yunus:96)

أَوْ يَكُونَ لَكَ بَيْتٌ مِنْ زُخْرُفٍ أَوْ تَرْقَىٰ فِي السَّمَاءِ وَلَنْ نُؤْمِنَ لِرُقِيِّكَ حَتَّىٰ تُنَزِّلَ عَلَيْنَا كِتَابًا نَقْرَؤُهُ ۗ قُلْ سُبْحَانَ رَبِّي هَلْ كُنْتُ إِلَّا بَشَرًا رَسُولًا

Atau kamu mempunyai sebuah rumah dari emas, atau kamu naik ke langit. Dan kami sekali-kali tidak akan mempercayai kenaikanmu itu hingga kamu turunkan atas kami SEBUAH KITAB YANG KAMI BACA.”
Katakanlah: “Maha Suci Tuhanku, bukankah aku ini hanya seorang manusia yang menjadi rasul?” (Isra:19)

Kalimat yang dicetak tebal mengindikasikan orang di sekeliling Nabi (bangsa Arab) bisa membaca. Dan mereka di luar kelompok Nabi dan pengikutnya.

Kesimpulan

Nabi yang Ummi atau Orang-orang yang Ummi bukanlah mereka yang buta huruf. Mereka disebut ummi karena mereka tidak memahami kebenaran sehingga dalam kegelapan.
Mengapa tidak memahami kebenaran ? Karena Allah tidak pernah memberikan Al Kitab atau mengirim seorang rasul kepada mereka.

وَمَا آتَيْنَاهُمْ مِنْ كُتُبٍ يَدْرُسُونَهَا ۖ وَمَا أَرْسَلْنَا إِلَيْهِمْ قَبْلَكَ مِنْ نَذِيرٍ

Dan Kami tidak pernah memberikan kepada mereka kitab-kitab yang mereka baca dan sekali-kali tidak pernah (pula) mengutus kepada mereka sebelum kamu seorang pemberi peringatanpun.
Saba:44

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s