Jalan Allah · Tahukah Kamu?

Hijrah: Perjalanan Ke Allah, Jalan Menuju Surga

Hijrah: Perjalanan ke Allāh, Jalan Menuju Jannah!

Diterjemahkan dari:
http://diaryofmuhajirah.tumblr.com/post/138668925103/hijrah-a-journey-to-all%C4%81h-the-path-towards

Sudah dua tahun sejak saya Hijrah dan demi Allāh, dua tahun ini adalah tahun terbaik dalam hidup saya.

Hijrah yang dilakukan dengan tulus demi Allāh mendatangkan pahala yang besar dan itulah mengapa itu diisi dengan cobaan dan kesengsaraan. Tapi, banyak orang tidak menyadarinya. Beberapa mengabaikan, sementara yang lainnya menunda-nunda. Dan di sisi lain, mereka berhijrah kembali ke Darul kufur untuk keuntungan duniawi.

Oleh karena itu, saya memutuskan untuk berbagi beberapa pengalaman saya. Saya ingin mengingatkan, tujuan saya berbagi cerita ini bukan untuk meremehkan salah satu dari mereka atau untuk menggambarkan seolah-olah saya yang terbaik. Demi Allāh, Dia lebih tahu kesalahan saya yang  tersembunyi.

1. Kisah Mereka Yang Kembali Dan Merencanaan Akan Kembali.

Saya bertemu adik Maghribi ini pada bulan Desember 2014. Dia Hijrah dengan suaminya bersama dengan dua anak perempuan. Dia seperti orang lain, menikmati masa tinggalnya di Suriah dan sejauh yang saya tahu, dia tidak berpikir untuk kembali ke Maroko.

Setelah satu bulan, saya mendengar dia kembali ke Darul kufr dengan dua anak perempuannya karena ayahnya datang ke Turki dan memintanya untuk datang kembali. Selama waktu itu, melintasi perbatasan itu bukan masalah besar dan itulah sebabnya adik ini bisa keluar dengan mudah.

Kisahnya mengingatkan saya tentang Ayyash bin Abi Rabi’ah yang bermigrasi ke Madinah dengan Umar dan mereka berdua berhasil. Namun, Abu Jahal dan al-Harits yang setengah-saudara dari Ayyash melalui ibunya menipunya.

Abu Jahl tahu perasaan cinta Ayyash  terhadap ibunya sehingga ia berkata kepada Ayyash,

“Ibumu telah bersumpah bahwa sisir tidak akan menyentuh kepalanya sampai dia melihat Kamu, dan dia tidak akan mencari naungan dari sengatan matahari sampai ia melihat Kamu.”

Ayyash merasa kasihan kepada ibunya. Namun, Umar memperingatkan dia dengan mengatakan,

“O Ayyash, demi Allāh, semua orang ingin  menyesatkanmu dari agamamu. Jadi berhati-hatilah dari mereka. Demi Allāh, jika kutu mengganggu ibumu, dia akan menyisir rambutnya. Dan jika panas Makkah menjadi tak tertahankan untuk dia, dia akan mencari keteduhan.”

Sayangnya, Ayyash kembali ke Makkah karena sumpah ibunya dan membawa beberapa kekayaannya. Umar mencoba untuk menyelamatkan temannya dengan memberikan unta betina untuk Ayyash dan menyuruhnya untuk melarikan diri jika terjadi sesuatu mencurigakan .

Dalam perjalanan kembali ke Makkah, lagi Abu Jahal dan al-Harits menipu Ayyash dan membawanya ke Makkah di mana mereka menempatkan dia ke pengadilan dan ia menyerah.

Dari cerita di atas, kita harus selalu mengingatkan diri kita bahwa tidak ada kepatuhan dengan tidak mematuhi Allāh. Memang, ketaatan kepada orang tua adalah salah satu perbuatan yang paling dicintai Allāh, tetapi ketaatan kepada Allāh datang pertama.

Allāh Ta’ala mengatakan,

ووصينا الإنسان بوالديه حسنا وإن جاهداك لتشرك بي ما ليس لك به علم فلا تطعهما إلي مرجعكم فأنبئكم بما كنتم تعملون

Dan Kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada dua orang ibu-bapaknya. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya. Hanya kepada-Ku-lah kembalimu, lalu Aku kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. [Al Ankabut: 8]

❤❤❤

Izinkan saya memberitahu Saudara kisah seorang adik Perancis yang Hijrah sekitar tiga tahun lalu. Awalnya dia dengan Jabhat An-Nusra, tapi kemudian ia membelot dan bergabung ke Daulah. Dia mengatakan kepada saya,

“Banyak yang telah saya  lalui. Tahun lalu (maksudnya 2014) saya terbaring di tempat tidur selama sembilan bulan karena tembakan. Saya tidak muda lagi (dia berusia 50 tahun), dan saya tidak memiliki suami atau anak-anak. Pengobatan tidak baik, dan saya berpikir untuk kembali ke Prancis.”

Kata-katanya putus asa. Tiga tahun tinggal di Suriah dan status menjadi Zawjat Ash-Shaheed (istri yang ditinggal syahid) tidak cukup untuk membuatnya teguh di jalan ini.

Memang, Allāh akan menguji sebagaimana Dia sebutkan dalam Surah Ali ‘Imran: 142,

أم حسبتم أن تدخلوا الجنة ولما يعلم الله الذين جاهدوا منكم ويعلم الصابرين

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad diantaramu dan belum nyata orang-orang yang sabar.

Tes ini tidak untuk mematahkan kita, tetapi untuk membuat kita menjadi seseorang yang lebih baik dan lebih kuat.

Nabi sangat sering  mengatakan, “Tidak, demi Dia yang membolak-balikkan hati.”

Itulah sebabnya kita tidak pernah harus merasa aman tentang iman kita. Semoga Allah melindungi kita dari bencana seperti ini yang menjauhkan hati kita dari-Nya.

2. Jihad Dan Hijrah Membutuhkan Pengorbanan

Hijrah tidak mudah. Saya tidak berbicara tentang Hijrah fisik, tetapi dari perspektif spiritual yang menghubungkan ke mental dan emosi.

Jadi, pertama dan terutama izinkan saya menceritakan kepada Saudara kisah saya sendiri. Sebelum saya  Hijrah, saya cukup yakin bahwa saya bisa menangani perjuangan inu, tapi saya salah. Selama 26 tahun, saya hidup dengan kehidupan yang mudah. Saya punya kamar sendiri, toilet sendiri, mobil sendiri, dll. Ketika saya di Safehouse, itu adalah waktu yang paling sulit bagi saya, tapi Alhamdulillah – Allāh memudahkan jalan saya.

Saya tinggal dengan saudara Maghribi. Mereka suka makan dan menghabiskan waktu bersama-sama. Mereka memasak hidangan Maghribi seperti Lubia, Harira, Tajin, Couscous, Rafisa, dll. dan akan selalu mengundang saya untuk makan bersama mereka, tapi saya menolak karena saya punya masalah dengan makan dari piring yang sama. Saya juga terisolasi sendiri karena tidak bergabung dengan pertemuan mereka.

Umm Yusuf datang kepada saya dan bertanya mengapa saya menghindari semua orang. Jadi saya bilang masalah saya. Kemudian dia bilang ke saya,

“Shams, orang-orang percaya itu bersaudara dan orang-orang percaya mengasihi satu sama lain demi Allāh.”

Hijrah datang dengan kerendahan hati, ketulusan, kerelaan berkorban dan kesabaran. Tanpa ini, Hijrah kita bukan apa-apa, dan saya belajar ini cukup terlambat.

❤❤❤

Saya ingat, baru-baru ini seorang adik menghubungi saya dan bertanya apakah itu mungkin berhijrah ke Syam. Saya menjelaskan kepadanya kondisi dan menyarankan dia untuk mengubah lokasi ke wilayah lain yang ada. Tanggapannya adalah “Syam atau tidak sama sekali.”

Saya ingin mengingatkan Saudara dan saudari saya, Allāh tidak akan bertanya  mengapa Saudara tidak hijrah ke Syam. Kita harus berhijrah ke tanah yang didirikan hukum Allāh. Jadi kita bisa taat kepada-Nya sepenuhnya tanpa batasan.

Allāh mengatakan dalam Surah An-Nisa ayat 97,

إِنَّ الَّذِينَ تَوَفَّاهُمُ الْمَلَائِكَةُ ظَالِمِي أَنْفُسِهِمْ قَالُوا فِيمَ كُنْتُمْ ۖ قَالُوا كُنَّا مُسْتَضْعَفِينَ فِي الْأَرْضِ ۚ قَالُوا أَلَمْ تَكُنْ أَرْضُ اللَّهِ وَاسِعَةً فَتُهَاجِرُوا فِيهَا ۚ فَأُولَٰئِكَ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا

Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya: “Dalam keadaan bagaimana kamu ini?”. Mereka menjawab: “Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah)”. Para malaikat berkata: “Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?”. Orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.

❤❤❤

Baru-baru ini seorang saudari menghubungi Kik saya dan membanjiri saya dengan berton-ton pertanyaan mengenai safehouse, jumlah saudara yang tinggal di sana dan masalah higienis. Dia melanjutkan dengan menanyakan bagaimana jika seseorang memiliki penyakit ini dan itu dan tidak cocok untuk hidup di safehouse.

Subhan Allāh. Seperti yang saya katakan, jalan ini membutuhkan pengorbanan, kesabaran dan ketabahan.

Mari kita merenungkan Hijrah Ali bin Abi Thalib yang penuh dengan pengorbanan, kesabaran dan keberanian. 

(Diambil dari Kitab, ‘Ali bin Abi Thalib Vol I ditulis oleh Dr. Ali Muhammad As Sallabi).

Selama perjalanan hijrahnya, Ali bersembunyi di siang hari dan bepergian di malam, sampai dia mencapai Madinah dengan kakinya bengkak dan kulitnya rusak. Jadi Ali mengalami kesulitan selama hijrahnya.

Dia tidak punya kendaraan untuk dinaiki, dan dia tidak bisa melakukan perjalanan di siang hari karena panas yang terik. Tetapi berjalan di malam hari di kegelapan  sangat kesepian dan menakutkan.

Jika kita tambahkan fakta bahwa ia menempuh jarak dengan berjalan kaki, tanpa pendamping untuk menghiburnya dan menjaga keteguhannya, kita akan menyadari sejauh mana kesulitan yang ia alami karena kekasaran rute dan kesulitan perjalanan demi mencari keridaan Allāh.

Migrasi Nabi dan sahabatnya dari tanah air mereka ke kota lain adalah sungguh pengorbanan besar – pengorbanan yang dirasakan dalam kata-kata Nabi,

“Demi Allāh, kamu (Makkah) memang bagian terbaik dari bumi Allah, dan bagian bumi yang paling dicintai Allāh. Dan jika saja saya tidak diusir darimu, saya tidak akan meninggalkanmu.”

Dalam Sahih Bukhari, Ummul Mukminin bercerita kepada kita apa yang terjadi dengan Muhajirin setelah mereka hijrah.

Aisyah mengatakan,

“Pada saat Nabi tiba di Madinah, itu bagian dari bumi Allah yang paling menderita demam, dan air kotor mengalir di lembah tersebut. Sahabat (Muhajirin) menjadi menderita di Madinah dengan kesulitan dan penyakit, namun Allāh melindungi Nabi-Nya dari semua itu.

Abu Bakar, Amir bin Fuairah dan Bilal, semuanya tinggal di rumah yang sama, menjadi menderita demam. Saya meminta izin kepada Rasulullah untuk mengunjungi mereka, dan ini  sebelum Hijab diwajibkan atas kita – dan saya menemukan mereka menderita demam yang parah.”

Aisyah menceritakan bahwa dia menanyakan masing-masing dari tiga pasien yang sakit bagaimana sakit yang ia rasakan. Setelah ia meninggalkan mereka, Aisyah memberitahu Nabi tentang kondisi mereka.

Nabi berdoa,

“Ya Allah! buatlah kami mencintai Madinah sebagaimana Engkau membuat kami mencintai Makkah atau lebih, dan pindahkan demam yang ada di dalamnya untuk Al-Juhfa. Ya Allah! berkatilah Mudd dan Sam kami (jenis tindakan).

Allāh kemudian menjawab doa tersebut. Madinah menjadi tempat yang sangat baik, sehat dan bebas penyakit bagi mereka yang mengunjungi atau berhijrah. Subhan Allāh, dan hari ini hampir setiap Muslim mencintai Madinah lebih dari Makkah dan ini adalah karena do’a Nabi kita tercinta.

Bersambung

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s