Tahukah Kamu?

Kerancuan Jalan Pikiran Hizbut Tahrir: Mendirikan Khilafah

Mendirikan Daulah Islam Kewajiban Kaum Muslim

Daulah Islam adalah Khilafah yang menerapkan sistem Islam. Khilafah atau Imamah adalah pengaturan tingkah laku secara umum atas kaum Muslim, artinya Khilafah bukan bagian dari akidah, tetapi bagian dari hukum syariah. Dengan demikian, Khilafah adalah masalah cabang yang berhubungan dengan perbuatan-perbuatan hamba. Mengangkat seorang khalifah adalah kewajiban seluruh kaum Muslim dan tidak halal bagi mereka hidup selama tiga hari tanpa adanya bai’at. Jika kaum Muslim tidak memiliki khalifah selama tiga hari maka seluruhnya berdosa hingga mereka berhasil mengangkat seorang khalifah. Dosa tersebut tidak akan gugur hingga mereka mencurahkan segenap daya dan upaya untuk mengangkat seorang khalifah dan memfokuskan aktivitasnya hingga berhasil mengangkatnya.

Baca selengkapnya di http://hizbut-tahrir.or.id/2008/01/04/mendirikan-daulah-islam-kewajiban-kaum-muslim/

Karena itu, wajib atas kaum Muslim menegakkan Daulah Islam, sebab Islam tidak akan terwujud dengan bentuk yang berpengaruh kecuali dengan adanya negara. Demikian juga, negeri-negeri mereka tidak dapat dianggap sebagai Negara Islam kecuali jika Daulah Islam yang menjalankan roda pemerintahannya.

Daulah Islam semacam ini, bukan sesuatu yang mudah (diwujudkan) dengan sekadar mengangkat para menteri —baik dari individu atau partai— lalu mereka menjadi bagian dalam struktur pemerintahan. Sesungguhnya jalan menuju tegaknya Daulah Islam dihampari onak dan duri, penuh dengan berbagai resiko, dan kesulitan. Belum lagi adanya tsaqafah non-Islam, yang akan menyulitkan; adanya pemikiran dangkal yang akan menjadi penghalang; dan pemerintahan yang tunduk pada Barat, yang membahayakan.

Sesungguhnya orang-orang yang meniti jalan dakwah Islam untuk mewujudkan Daulah Islam; mereka lakukan itu untuk meraih pemerintahan, yang akan mereka gunakan sebagai thariqah dalam melanjutkan kehidupan Islam di negeri-negeri Islam dan mengemban dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia. Karena itu, anda saksikan mereka tidak akan menerima pemerintahan parsial, meskipun banyak hal yang mengodanya. Mereka juga tidak akan menerima pemerintahan yang sempurna, kecuali jika memberi peluang untuk menerapkan Islam secara revolusioner.

Baca selengkapnya di http://hizbut-tahrir.or.id/2009/02/24/daulah-islam/

Mendirikan khilafah

Apa arti mendirikan khilafah? Mendirikan khilafah menurut Hizbut Tahrir adalah mewujudkan khilafah atau mengadakan/menciptakan khilafah. Maksudnya, awalnya khilafah tidak ada, lalu umat pengemban dakwah mengadakannya. 

Benarkah arti mendirikan khilafah yang benar seperti itu? Apakah pemahaman mewujudkan khilafah itu Islami (sesuai dengan Firman Allah dan Sunnah Rasul-Nya)?

Marilah kita kaji apa arti kata mendirikan dan apa arti kata khilafah atau Khalifah

Arti Kata Mendirikan

men·di·ri·kan v 1 memasang (meletakkan) berdiri; menegakkan: ~ tiang listrik (telepon, bendera); 2 membuat atau membangun (rumah, pabrik, dsb): pemerintah ~ pasar darurat untuk menampung pedagang kaki lima; 3 mengadakan (perkumpulan, yayasan, koperasi, dsb): mereka berhasil ~ koperasi di kampungnya; 4 menjalankan; melaksanakan; mengerjakan (kewajiban dsb): sesudah ~ salat, ia membaca ayat-ayat suci Alquran;

Apa arti khalifah?

Di Wikipedia dijelaskan:

Khalifah

Khalifah (Arab:خليفة Khalīfah) adalah gelar yang diberikan untuk pemimpin umat Islam setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW (570–632). Khalifah juga sering disebut sebagai Amīr al-Mu’minīn (أمير المؤمنين) atau “pemimpin orang yang beriman”, atau “pemimpin orang-orang mukmin”, yang kadang-kadang disingkat menjadi “amir”.

Etimologi

Kata “Khalifah” sendiri dapat diterjemahkan sebagai “pengganti” atau “perwakilan.” Dalam Al-Qur’an, manusia secara umum merupakan khalifah Allah di muka bumi untuk merawat dan memberdayakan bumi beserta isinya. Sedangkan khalifah secara khusus maksudnya adalah pengganti Nabi Muhammad saw sebagai Imam umatnya, dan secara kondisional juga menggantikannya sebagai penguasa sebuah entitas kedaulatan Islam (negara). Sebagaimana diketahui bahwa Muhammad saw selain sebagai Nabi dan Rasul juga sebagai Imam, Penguasa, Panglima Perang, dan lain sebagainya.

Di kamus Al Mu’jam, khalifah berarti:

  1. Seorang yang menggantikan tempat orang lain dan menempati kedudukannya;
  2. Sultan Agung;
  3. Pemimpin puncak;
  4. Amirul Mukminin.

Adapun dalam Al Quran, yang dimaksud dengan kata خلف yang menjadi akar kata khalifah, khulafa, khilafah ialah pengganti. 

فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ ۖ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا

Maka menggantikan sesudah mereka pengganti yang menyia-nyiakan salat dan memperturutkan hawa nafsunya. Maka mereka kelak akan menemui kesesatan. [Maryam:59]

Nabi Daud disebut khalifah karena dia menggantikan kedudukan Raja Thalut setelah meninggal.

Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (pengganti penguasa) di muka bumi. Maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan. [Shad:26]

Abu Bakr juga disebut sebagai khalifah karena ia menggantikan posisi Rasulullah sebagai Pemimpin (Imam, Amir) orang beriman.

Apa yang dimaksud dengan mendirikan khilafah?

Setelah kita mengetahui makna kedua kata itu, barulah kita dapat memahami pengertian mendirikan khilafah yang benar, yang sesuai dengan kehendak Allah.

Dalam surah Shad, Allah menjadikan Nabi Daud sebagai khalifah. Apa yang dapat kita pelajari dari ayat itu?

  1. Artinya, Nabi Daud tidak mendirikan (mengadakan atau membuat) khilafah. Allah yang menganugerahkannya.
  2. Sebelum Nabi Daud menjadi khalifah, Negara (Kerajaan, Pemerintahan) sudah ada. Nabi Daud tidak mewujudkannya. Beliau tinggal meneruskan untuk menjalankan (lihat arti mendirikan no 4) Pemerintahan Islami (Daulah Islamiyyah) yang sudah ada.
  3. Setelah Nabi Daud menggantikan Thalut, Istilah berubah: dari Raja menjadi Khalifah. Dari Kerajaan menjadi Khilafah. Essensi tetap, hanya sebutan yang berbeda.

Hal yang sama juga terjadi pada Khulafa Ar Rasyidin. Mereka tidak pernah berjuang untuk mendirikan (membuat, mengadakan) khilafah. Pada saat Nabi wafat, Pemerintahan Islami sudah ada. Hanya tidak ada Pemimpinnya. Nah, Abu Bakr menggantikan kepemimpinan Daulah Islamiyyah yang sudah ada.

Dengan demikian, makna “mendirikan Khilafah” yang benar adalah menyelenggarakan pemerintahan Islami yang sudah ada, yang sudah dianugerahkan Allah kepada hamba-hamba pilihan-Nya sebagai pemenuhan janji yang pernah diberikan.

Sekarang terlihat dimana kesalahan fatal Hizbut Tahrir. Hizbut Tahrir berjuang mendirikan (dalam arti membuat, mengadakan) khilafah, sedangkan Nabi Daud dan para Khalifah Ar Rasyidin tidak pernah memperjuangkan keberadaan khilafah. Nabi Daud menjadi Khalifah karena karunia Allah, bukan hasil perjuangan Beliau untuk mendapatkannya.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s