Tahukah Kamu?

Kerancuan Jalan Pikiran Hizbut Tahrir (Bagian 2)

Dalil Kewajiban Khilafah

“Para ulama menerangkan bahwa dalil-dalil kewajiban Khilafah ada 4 (empat), yaitu : Al Qur`an, As Sunnah, Ijma’ Shahabat, dan Qaidah Syar’iyyah.

Dalil Al Qur`an, antara lain firman Allah SWT :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ أَطِيعُواْ اللّهَ وَأَطِيعُواْ الرَّسُولَ وَأُوْلِي الأَمْرِ مِنكُمْ

“Wahai orang-orang yang beriman taatilah Allah dan taatilah Rasul-NYa, dan Ulil Amri di antara kamu.” (QS An-Nisaa`: 59)

Wajhul Istidlal (cara penarikan kesimpulan dari dalil) dari ayat ini adalah, ayat ini telah memerintahkan kaum muslimin untuk mentaati Ulil Amri di antara mereka, yaitu para Imam (Khalifah). Perintah untuk mentaati Ulil Amri ini adalah dalil wajibnya mengangkat Ulil Amri, sebab tak mungkin Allah SWT memerintahkan umat Islam untuk mentaati sesuatu yang tidak ada. Dengan kata lain, perintah mentaati Ulil Amri ini berarti perintah mengangkat Ulil Amri. Jadi ayat ini menunjukkan bahwa mengangkat seorang Imam (Khalifah) bagi umat Islam adalah wajib hukumnya. (Abdullah Umar Sulaiman Ad Dumaiji,  Al Imamah Al ‘Uzhma ‘Inda Ahlis Sunnah wal Jama’ah, (Kairo : t.p), 1987, hlm. 49.)

Dalil Al Qur`an lainnya, adalah firman Allah SWT :

فَاحْكُم بَيْنَهُم بِمَا أَنزَلَ اللّهُ وَلاَ تَتَّبِعْ أَهْوَاءهُمْ عَمَّا جَاءكَ مِنَ الْحَقِّ

“Maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang diturunkan Allah dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu.” (QS Al Maidah : 48)

Wajhul Istidlal dari ayat ini adalah, bahwa Allah telah memerintahkan Rasulullah SAW untuk memberikan keputusan hukum di antara kaum muslimin dengan apa yang diturunkan Allah (Syariah Islam). Kaidah ushul fiqih menetapkan bahwa perintah kepada Rasulullah SAW hakikatnya adalah perintah kepada kaum muslimin, selama tidak dalil yang mengkhususkan perintah itu kepada Rasulullah SAW saja. Dalam hal ini tak ada dalil yang mengkhususkan perintah ini hanya kepada Rasulullah SAW, maka berarti perintah tersebut berlaku untuk kaum muslimin seluruhnya hingga Hari Kiamat nanti. Perintah untuk menegakkan Syatiah Islam tidak akan sempurna kecuali dengan adanya seorang Imam (Khalifah). Maka ayat di atas, dan juga seluruh ayat yang memerintahkan berhukum dengan apa yang diturunkan Allah, hakikatnya adalah dalil wajibnya mengangkat seorang Imam (Khalifah), yang akan menegakkan Syariah Islam itu. (Abdullah Umar Sulaiman Ad Dumaiji,  Al Imamah Al ‘Uzhma ‘Inda Ahlis Sunnah wal Jama’ah, (Kairo : t.p), 1987, hlm. 49.

sumber: http://hizbut-tahrir.or.id/2012/09/05/jawaban-tuntas-pertanyaan-berulang-seputar-khilafah-dan-hizbut-tahrir/

Kata ulil amri tidak bisa dimaksudkan secara khusus untuk khalifah. Ada istilah untuk itu: Amirul Mukminin. Kata ulil amri ditujukan secara umum untuk mereka yang memegang urusan atau memegang komando kaum Muslimin. Dan itu bukan khalifah, meskipun khalifah juga ulil amri. Contohnya Mush’ab Ibn Ummair, duta Rasulullah yang dikirim untuk mendidik kaum Muslimin di Madinah dan menyerukan agama Allah kepada penduduk Madinah yang masih musyrik. Mush’ab secara otomatis

menjadi ulil amri, dan harap dicatat, Mushab tidak mencalonkan diri dan juga tidak dipilih. Contoh lainnya adalah Usamah Ibn Zaid yang diperintahkan Rasulullah (menjelang akhir hayatnya) membawa pasukan ke Mauta untuk berperang. Di sini Usamah yang masih muda menjadi ulil amri pasukan perang kaum Muslimin atas penunjukan Nabi, bukan atas keinginan pribadi atau kelompok dan bukan atas pengangkatan oleh umat.

Masih banyak lagi sahabat yang ditunjuk oleh khalifah sebagai ulil amri (gubernur, panglima perang dll.). Di antaranya Khalid Ibn Walid ditunjuk oleh Khalifah Abu Bakr sebagai pemimpin umum (ulil amri) pertempuran Yamamah memerangi kelompok murtadin Musailamah. Di sini menjadi jelas perbedaan antara ulil amri dengan khalifah.

Melihat ini, sungguh kacau pikiran Hizbut Tahrir yang menyamakan ulil amri dengan khalifah. Jadi, dalil ulil amri sebagai pembenaran kewajiban khilafah sangat dipaksakan. Seharusnya Hizbut Tahrir menyajikan ayat yang gamblang (muhkamat) menyebut kata “diwajibkan” dan “khalifah” dalam satu ayat. 

Adapun dalil-dalil lainnya yang diajukan Hizbut Tahrir merupakan ayat-ayat mutasyabihat: bisa ditafsirkan ke mana maunya si penafsir. Sekedar informasi, ayat 

فَاحْكُم بَيْنَهُم بِمَا أَنزَلَ اللّهُ وَلاَ تَتَّبِعْ أَهْوَاءهُمْ عَمَّا جَاءكَ مِنَ الْحَق

diturunkan setelah kaum Muslimin hijrah dan tamkin. Nah, Hizbut Tahrir belum tamkin sehingga anggap saja ayat ini belum ada (baca: tidak dapat dipakai sebagai argumentasi) bagi Hizbut Tahrir. Ayat ini berlaku untuk kelompok yang telah hijrah dan membentuk masyarakat Madani seperti Daulah Islamiyyah Baqiyyah.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s