Tahukah Kamu?

Rabbi = Tuan = Majikan = Pengatur

وَقَالَ لِلَّذِي ظَنَّ أَنَّهُ نَاجٍ مِنْهُمَا اذْكُرْنِي عِنْدَ رَبِّكَ فَأَنْسَاهُ الشَّيْطَانُ ذِكْرَ رَبِّهِ فَلَبِثَ فِي السِّجْنِ بِضْعَ سِنِينَ

وَقَالَ ‪dan (Yusuf)  berkata‬ لِلَّذِى ‪kepada orang yang‬ ظَنَّ ‪dia menyangka‬
أَنَّهُۥ ‪sesungguhnya ia‬
نَاجٍ ‪selamat‬
مِّنْهُمَا ‪diantara keduanya‬ ٱذْكُرْنِى ‪terangkan keadaanku‬ عِندَ ‪disisi‬
رَبِّكَ ‪Tuanmu‬
فَأَنسَىٰهُ ‪maka menjadikan ia lupa‬
ٱلشَّيْطَٰنُ ‪syaitan‬
ذِكْرَ ‪menerangkan‬
رَبِّهِۦ ‪tuannya‬
فَلَبِثَ ‪maka (Yusuf) tetap‬ فِى ‪dalam‬
ٱلسِّجْنِ ‪penjara‬
بِضْعَ ‪sebagian/beberapa‬ سِنِينَ ‪tahun‬

Dan Yusuf berkata kepada orang yang diketahuinya akan selamat diantara mereka berdua: Terangkanlah keadaanku kepada Tuanmu. Maka syaitan menjadikan dia lupa menerangkan (keadaan Yusuf) kepada tuannya. Karena itu tetaplah dia (Yusuf) dalam penjara beberapa tahun lamanya.
Surah Yusuf,12:42

Makna kata ‘Rabbi‘ yang sesungguhnya adalah Tuan. Tuan adalah boss yang berkuasa, yang mengatur kehidupan manusia. Dia lah ‘majikan’ kita tempat kita bekerja, mengabdi dan berbakti. Kita hanyalah budak atau hamba-Nya dan tugas utama seorang budak adalah mengikuti segala keinginan majikannya dan tunduk patuh kepada segala peraturan yang dibuat oleh tuannya. Seorang budak adalah milik tuannya dan tidak boleh mengharapkan apa-apa dari pemiliknya

Makna di atas sangat bertolak belakang dengan makna Rabbi sebagai Tuhan yang ada di pikiran kebanyakan manusia. Bagi mereka, sosok Tuhan hanya ada pada agama dan tempat-Nya berada di langit. Menemui Dia di bumi hanya bisa di rumah-rumah peribadatan. Menyenangkan hati-Nya adalah dengan cara menyembahnya, melalui segala bentuk ritual pemujaan dan memuji-Nya dengan perkataan bukan dengan perbuatan. Kalaupun dilakukan dengan perbuatan, para pengikutya mengharapkan imbalan berupa pahala atau point yang dikumpulkan sebagai tiket untuk masuk surga, nanti di alam sesudah mereka mati.

Sesungguhnya, amstal atau kata perumpamaan ‘budak’ atau ‘hamba’ adalah personifikasi yang seharusnya menjadi mudah untuk dipahami bagi manusia. Namun yang ada justru menyesatkan kebanyakan orang.

Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua Tuan dalam hidupnya. [Lukas 16:13]. Artinya, manusia tidak boleh mengabdi kepada yang lain selain Tuan semesta alam. Karena ini adalah perbuatan syirik atau perbuatan mempersekutukan sang majikan. Syirik adalah dosa yang tidak diampuni oleh-Nya.

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ ۚ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًا

Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan dia mengampuni dosa yang selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya.
Surah An-Nisa:116

Bila mempunyai dua tuan saja dilarang, apalagi mempunyai lebih dari itu.
Namun pada hari ini, tidak ada satu manusia pun yang merasa dirinya melakukan perbuatan syirik, karena arti kata syirik menurut para ahli kitab adalah ‘menyembah’ selain Tuhan. Para penganut agama, apapun itu agamanya, merasa sudah ‘menyembah’ hanya kepada satu Tuhan. Tetapi dalam hidupnya, mereka ‘mengabdi’ kepada Tuan-Tuan yang lain; berbakti kepada yang lain. Mereka hidup mengikuti keinginannya sendiri, dimana dirinya telah menjadi Tuan yang diabdi dalam hidupnya.

Manusia yang mempunyai banyak ‘Tuan’ adalah manusia yang kotor. Kata ‘kotor’ di sini bukanlah dalam bentuk fisik (harfiah) melainkan ‘kotor pikirannya’ (kalbunya). Untuk kembali menjadi budak/hamba-Nya yang dimana adalah fitrah sejati manusia, mereka harus ‘membunuh dirinya’. Maksudnya adalah membunuh hawa nafsu yang menjadi Tuan dalam pikirannya. Menurut-Nya, manusia yang berTuan kan hawa nafsunya tidak beda derajatnya dengan binatang ternak, bahkan lebih rendah lagi [QS Al-Furqan:43-44].

Bila mayoritas manusia sudah kembali menjadi kotor pikirannya, kembali hidup seperti binatang ternak dan tidak lagi menjadikan-Nya sebagai boss yang berkuasa di bumi, mungkinkah sang majikan membiarkan keadaaan ini begitu saja selamanya? Pastinya tidak. Dia pasti akan membangkitkan kembali seorang anak manusia yang ditunjuk sebagai wakil-Nya di bumi, yang bekerja atas nama-Nya.
Tugas semua Rasul adalah mensucikan manusia. Bukan mensucikan fisiknya, tetapi mensucikan kalbunya (pikirannya). Yaitu dengan membebaskan mental perbudakan manusia kepada manusia. Rasul tidak mengajarkan agama, tetapi mengajarkan manusia untuk hanya mengabdi dan tunduk patuh kepada-Nya. Mengajak manusia untuk kembali menjadi budak-Nya, karena itulah esensi atau fitrah Allah yang sesungguhnya. Inilah esensi yang diajarkan oleh Nabi Ibrahim sebagai bapak para Rasul, yaitu untuk tunduk patuh kepada Tuan semesta alam.

إِذْ قَالَ لَهُ رَبُّهُ أَسْلِمْ ۖ قَالَ أَسْلَمْتُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ

Ketika Tuannya berfirman kepadanya: Tunduk patuhlah! Ibrahim menjawab: Aku tunduk patuh kepada Tuan semesta alam.
Surah Al-Baqarah,2:131

Maha benar Tuan dengan semua perkataan-Nya.

Dicopas dari sebuah sumber dengan sedikit editing

Posted from WordPress for Android

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s