Tahukah Kamu?

Belajar memahami Al Quran dari ayat-ayat Mutasyabihat

image

QATH’I DAN DZANNI

FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI
MANAJEMEN DAKWAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG

2014

I.     PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang
Dalam kajian terhadap al-Qur’an, ada dua hal penting yang mutlak diperhatikan, yaitu al-tsubut (kebenaran sumber) dan al-dalalah (kandungan makna).Dari sisi al-subut al-Qur’an, tidak ada perbedaan pandangan di kalangan umat Islam tentang kebenaran sumbernya (qath’i tsubut) berasal dari Allah karena sampai kepada umat Islam secara mutawatir sehingga memfaedahkan yakin.
Sementara dari sisi dalalah atau kandungan redaksi ayat-ayat al-Qur’an yang berkaitan dengan hukum, dapat dibedakan atas ayat-ayat yang qath’i dan Dzanni.Kajian mendalam terhadap ayat-ayat al-Qur’an menunjukan bahwa adanya ayat-ayat yang qathi’i dan Dzanni merupakan ciri al-Qur’an tersendiri dalam menjelaskan hukum (ahkam).Atas dasar ini, yang menjadi pertimbangan dalam pengkajiannya adalah tabi’at ayat itu sendiri.Dalam hal ini, Allah memang secara sengaja menempatkan suatu ayat qathi’i dan yang lain Dzanni dengan maksud dan makna tertentu.
            Pembahasan qath’i dan Dzanni hanya dapat ditemukan di kalangan ahli ushul fiqh ketika mereka menganalisis kebenaran sumber suatu dalil serta kandungan makna dalil itu sendiri. Ulama Ushul al-Fiqh ada yang menegaskan bahwa sifat dalil itu adalah menunjukkan kepada hukum syar’i secara konklusif (qath’i), kalau tidak menunjukkan kepada hukum syar’i secara konklusif (qath’i), melainkan hanya dugaan kuat (Dzanni) maka disebut dengan amarah (tanda-tanda hukum). Akan tetapi pengertian yang umum di kalangan ulama Ushul al-Fiqh adalah bahwa dalil-dalil itu meliputi semua sumber hukum (Mashadir al-Ahkam) yang menunjukkan kepada hukum syar’i, baik secara qath’i maupun secara Dzanni.[1]

Sewaktu kuliah dulu saya pernah mendapat materi tentang ayat mutasyabihat dan ayat muhkamat. Dosennya tamatan Al Azhar di Kairo Mesir. Kata dia Al Quran terdiri dari dua jenis ayat: 1. Ayat muhkamat dan 2. Ayat mutasyabihat. Ayat muhkamat adalah ayat-ayat yang tegas  maknanya (qathi). Ayat mutasyabihat adalah ayat ayat yang artinya ganda sehingga bisa diartikan lebih dari satu (zhanni). Kata zhanni (ظن) itu sendiri berarti menduga-duga, menebak-nebak.

Apa yang diajarkan kepada saya sekitar 35 tahun yang lalu masih juga diajarkan saat ini di IAIN. Rupanya ini sudah menjadi kurikulum mereka untuk menanamkan faham kenisbian Al Quran kepada calon dai selebriti yang kemudian meneruskannya kepada ummat.

[ Ini menjadi bukti: 1. Lembaga pendidikan Islam, mulai dari tingkatan yang rendah hingga tingkatan yang lebih tinggi menjadi ladang pendangkalan akidah oleh para ahli kitab fasik: kyai, ustadz, cendikiawan ‘muslim’ dan sebutan manis lainnya. 2. Agama Islam adalah ciptaan manusia. Ia merupakan hasil dari perpaduan antara agama Allah dan nasionalisme, kejawen….dll. ]

Dengan pemahaman seperti itu, maka terjemahan ayat 7 surah Ali Imran menjadi:

Dialah yang menurunkan Al Kitab kepada kamu. Di antaranya ada ayat-ayat yang tegas (muhkamat), itulah pokok-pokok isi Al quran dan  lainnya (ayat-ayat) yang samar (mutasyabihat). Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang serupa (mutasyabihat) daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami. Dan tidak dapat mengambil pelajaran  melainkan orang-orang yang berakal.
Surah Ali ‘Imran (3:7)

Terjemahan ini jelas inspirasi setan.
Merujuk ayat-ayat yang lain, ayat setan di atas sangat kontradiktif.
Mengapa?
Mana mungkin Allah memberikan perintah dengan kata-kata ambigu. Manusia yang pikirannya rancu dan tidak menguasai bahasa kemungkinan besar melakukannya. Tapi Tuhan, Komunikator Yang serba hebat, serba effektif dan serba lainnya tak akan mungkin berbuat demikian. Ia akan memilih kata dan kalimat yang jelas dan mudah dipahami oleh orang awam sekalipun.

Lagi pula, Al Quran itu buku petunjuk, bukan buku kumpulan Teka Teki Silang. Sebuah buku panduan yang baik pastilah instruksi yang diberikan sangan jelas, pasti dan tidak meragukan.

Dalil-dalil yang bertentangan dengan terjemahan di atas sangat banyak. Silakan baca postingan yang berkaitan dengan Al Quran di blog ini.

Ayat di atas seharusnya diterjemahkan:

Dialah yang menurunkan Al Kitab kepada kamu. Di antaranya ada ayat-ayat yang tegas (muhkamat), itulah pokok-pokok isi Al quran dan  lainnya (ayat-ayat) yang sama (mutasyabihat). Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyabihat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami. Dan tidak dapat mengambil pelajaran  melainkan orang-orang yang berakal.

SAMAKAH ARTI KATA SAMA DAN SAMAR ?

image

image

Beda satu hurup saja bisa memutar arti 360%. Sama berarti serupa, seperti, mirip. Sama bisa juga berarti sepadan, seimbang, lurus, adil, benar, tepat…. Sedangkan samar berarti tidak jelas, tidak fokus, blur, ambigu, meragukan, keliru…

MEMAHAMI AYAT MUTASYABIHAT, BUKAN MENTAKWILKANNYA

“…padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya melainkan Allah….”

Hanya Allah yang tahu ayat-ayat mutasyabihat. Manusia jangan sok tahu. Serahkan  semua penjelasan kepada pemilik ayat. Orang yang percaya hanya menunggu penjelasan-Nya.

Dan cara Allah menjelaskan ayat-ayat- Nya ialah dengan memberikan ayat-ayat mutasyabihat!

“…. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.”
3:103

Ayat-ayat sebelum 3:103 adalah ayat-ayat mutasyabihat: ayat yang serupa, ayat yang sama-sama bicara tentang berpegang teguh pada agama Allah. Dan semua ayat saling menjelaskan satu dengan yang lain; saling menguatkan satu sama lain. Tidak ada satu ayatpun yang malah membuyarkan, mengaburkan.

Kalaupun terlihat ada, bukan ayatnya yang salah; bukan ayatnya yang bertentangan; melainkan terjemahan ayat yang salah karena salah memahami ayat atau karena dibuat salah oleh ahli kitab fasik dalam rangka memecah belah agama.

Mereka yang mengartikan mutasyabihat dengan samar berpegang pada kamus seperti pada contoh ini:
image

Mutasyabihat di kamus ini diartikan yang mengandung syubhat, syak, keragu raguan.
Kamus memang banyak membantu kita memahami makna kata. Ini berlaku untuk kata-kata yang bukan istilah keagamaan (din). Untuk istilah keagamaan kita hendaknya hati-hati, karena para ahli kitab ikut bermain di situ. Kita jangan percaya begitu saja. Sebaiknya kita bertanya: “Apa yang Engkau maksud dengan mutasyabihat ya Allah Rabbiku,” sambil terus mencari jawaban dari ayat-ayat-Nya.

Mutasyabihat diartikan samar, syubhat (keraguan) atau syak (sangsi, meragukan) sangat bertentangan dengan ayat ini:

ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ

Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa,
Surah Al-Baqarah:2

Dan tidak sesuai dengan ayat 99 surah yang sama.

وَلَقَدْ أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ آيَاتٍ بَيِّنَاتٍ ۖ وَمَا يَكْفُرُ بِهَا إِلَّا الْفَاسِقُونَ

Dan sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu ayat-ayat yang jelas; dan tak ada yang ingkar kepadanya, melainkan orang-orang yang fasik.

Ayat-ayat Al Quran adalah jelas, tidak samar!
Jadi dari dua ayat itu saya tahu arti yang mereka berikan itu salah.

BAGAIMANA MEMAHAMI AYAT MUTASYABIHAT?

“….Dan tidak dapat mengambil pelajaran  melainkan orang-orang yang berakal”

image

Berikut saya ingin menunjukkan bagaimana cara mengetahui arti kata mutasyabihat yang benar menurut Allah melalui ayat-ayat mutasyabihat juga. Untuk ini
Saya menggunakan aplikasi Quran Android guna mencari ayat-ayat yang terkait dengan kata متشابهات – تشابه – شبه. Caranya dengan mengetikkan kata tersebut pada pencarian.

[Catatan! Cara menambahkan tulisan huruf Arab: > setting> bahasa & masukan> keyboard android> bahasa masukan> lalu
centang Arab]

وَقَالَ الَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ لَوْلَا يُكَلِّمُنَا اللَّهُ أَوْ تَأْتِينَا آيَةٌ ۗ كَذَٰلِكَ قَالَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ مِثْل قَوْلِهِمْ ۘ تَشَابَهَتْ قُلُوبُهُمْ ۗ قَدْ بَيَّنَّا الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ

Dan orang-orang yang tidak mengetahui berkata: “Mengapa Allah tidak (langsung) berbicara dengan kami atau datang tanda-tanda kekuasaan-Nya kepada kami?” Demikian pula orang-orang yang sebelum mereka telah mengatakan seperti ucapan mereka itu; hati mereka serupa. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan tanda-tanda kekuasaan Kami kepada kaum yang yakin.

Mutasyabihat asalnya dari kata tasyaabaha. Ayat di atas menunjukkan arti kata تشابه yang asli, yaitu مثل (misal, seperti).

Ayat berikut juga menggunakan kata mutasyaabihan dan diartikan “yang serupa.”

وَبَشِّرِ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ ۖ كُلَّمَا رُزِقُوا مِنْهَا مِنْ ثَمَرَةٍ رِزْقًا ۙ قَالُوا هَٰذَا الَّذِي رُزِقْنَا مِنْ قَبْلُ ۖ وَأُتُوا بِهِ مُتَشَابِهًا ۖ وَلَهُمْ فِيهَا أَزْوَاجٌ مُطَهَّرَةٌ ۖ وَهُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rezeki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan: “Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu”. Mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada isteri-isteri yang suci dan mereka kekal di dalamnya.

Ayat di bawah ini lebih menegaskan makna mutasyabihat:

اللَّهُ نَزَّلَ أَحْسَنَ الْحَدِيثِ كِتَابًا مُتَشَابِهًا مَثَانِيَ تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُودُ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ثُمَّ تَلِينُ جُلُودُهُمْ وَقُلُوبُهُمْ إِلَىٰ ذِكْرِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ هُدَى اللَّهِ يَهْدِي بِهِ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَمَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ

Allah telah menurunkan Al Hadis yang paling baik (yaitu) kitab yang serupa lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, niscaya tak ada baginya seorang pemimpinpun.

MENTAKWILKAN AYAT MUTASYABIHAT AKAN MENGHASILKAN FAHAM YANG SESAT !

“…orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyabihat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari takwilnya,….”

Perbedaan orang mukmin dan orang fasik dalam menghadapi suatu ayat adalah:
• Orang mukmin mencari jawaban; menggali informasi dari banyak ayat terkait satu topik lalu memahami dan menyimpulkan.
• Orang fasik membaca sebuah ayat lalu mentafsirkan dari sudut pandang dia.

Contoh 1

وَالَّذِينَ اسْتَجَابُوا لِرَبِّهِمْ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَمْرُهُمْ شُورَىٰ بَيْنَهُمْ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ

Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarat antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka.

Kata syuura pada ayat diatas diterjemahkan dengan kata musyawarah. Ini tidak salah. Yang salah ialah ketika ayat ini dibelokkan menjadi musyawarah dalam konteks demokrasi. Ayat bicara tentang musyawarah. Dalam sistim demokrasi juga ada istilah musyawarah. Kesamaan (mutasyabihat) kata inilah yang dimanfaatkan untuk mengelabui orang awam pencari kebenaran. Jadilah ayat ini sebagai pembenar ajaran demokrasi. Mereka lantas mengkampanyekan ajaran demokrasi. Kata mereka: “Demokrasi bagian dari ajaran Islam!”

Contoh 2.

“…maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyabihat….” Ayat ini maksudnya: mereka, ahli kitab fasik hanya mengikuti ayat-ayat yang mirip dengan pandangan hidup mereka. Mereka selalu mencari-cari ayat mana yang sesuai, yang sama dengan konsep mereka atau konsep Tuan mereka. Setelah ketemu, “Ini dia ayat tentang wajib taat kepada pemerintah: athii’ullah, athii’rrasuul wa uulil amri minkum!”

CATATAN:
Pengertian Ayat yang Jelas:

بَلْ هُوَ آيَاتٌ بَيِّنَاتٌ فِي صُدُورِ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ ۚ وَمَا يَجْحَدُ بِآيَاتِنَا إِلَّا الظَّالِمُونَ

Sebenarnya, Al Quran itu adalah ayat-ayat yang terang, jelas di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang zalim.

Jelas bagi mukmin (orang yang diberi ilmu = orang yang percaya). Bagi orang kafir, Al Quran tetap saja kitab yang sulit dimengerti, meskipun mereka doktor, professor).

وَلَوْ جَعَلْنَاهُ قُرْآنًا أَعْجَمِيًّا لَقَالُوا لَوْلَا فُصِّلَتْ آيَاتُهُ ۖ أَأَعْجَمِيٌّ وَعَرَبِيٌّ ۗ قُلْ هُوَ لِلَّذِينَ آمَنُوا هُدًى وَشِفَاءٌ ۖ وَالَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ فِي آذَانِهِمْ وَقْرٌ وَهُوَ عَلَيْهِمْ عَمًى ۚ أُولَٰئِكَ يُنَادَوْنَ مِنْ مَكَانٍ بَعِيدٍ

Dan jikalau Kami jadikan Al Quran itu suatu bacaan dalam bahasa selain Arab, tentulah mereka mengatakan: Mengapa tidak dijelaskan ayat-ayatnya? Apakah (patut Al Quran) dalam bahasa asing sedang (rasul adalah orang) Arab? Katakanlah: Al Quran itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang mukmin. Dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan, sedang Al Quran itu suatu kegelapan bagi mereka. Mereka itu adalah (seperti) yang dipanggil dari tempat yang jauh.
Surah Fussilat:44

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s