Tahukah Kamu?

Tanggapan Seputar Bid’ah Hasanah

Bid’ah menurut ulama Ahlussunnah

Sedangkan kelompok ahlussunah berpendapat bahwa bid’ah yang dimaksudkan dalam hadist di atas adalah segala sesuatu hal baru yang menyelisihi atau tidak bisa dikembalikan kepada Al Qur’an, Sunnah atau Ijma’. Tetapi jika hal baru tersebut masih bisa dikembalikan kepada dasar Al Qur’an, Sunnah atau Ijma’, maka hal tersebut bukan bid’ah dholalah ( bid’ah sesat ). Di antara penganut tafsir ini adalah Al Imam Asy Syafi’i.

Karena itulah, sangat bijaksana ketika Al Imam Asy Syafi’I rahimahullah berkata, ”Setiap sesuatu yang mempunyai dasar dari dalil-dalil syara’ bukan termasuk bid’ah meskipun belum pernah dilakukan oleh salaf. Karena sikap mereka meninggalkan hal tersebut terkadang karena ada udzur yang terjadi pada saat itu, atau karena ada amaliah lain yang lebih utama atau barang kali belum diketahui mereka“ ( Itqaan Shin’ah fi tahqiiqi ma’na bid’ah hal. 5 ).

Apasih yang menyebabkan terjadinya perselisihan panjang ini?

Pertama, mereka  (si pelajar) tidak memahami kata kunci masalahnya.
Yang menjadi kata kunci dalam masalah bid’ah adalah شرعوا لكم من الدين yang berarti syariat dari agama. Yang dimaksud adalah tata cara, prosesi, seremonial, upacara yang merupakan bagian dari agama. Ini yang tidak difahami oleh pencari kebenaran.

Yang ke-dua, mereka (si ustadz) memang suka merubah-rubah agama ciptaan Allah. Ini ditegaskan dengan ayat ini:

وَتَمَّتْ كَلِمَتُ رَبِّكَ صِدْقًا وَعَدْلًا ۚ لَا مُبَدِّلَ لِكَلِمَاتِهِ ۚ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

Telah sempurnalah kalimat Tuhanmu (Al-Quran) sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat merubah rubah kalimat-kalimat-Nya dan Dialah yang Maha Mendenyar lagi Maha Mengetahui.

يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ لَا يَحْزُنْكَ الَّذِينَ يُسَارِعُونَ فِي الْكُفْرِ مِنَ الَّذِينَ قَالُوا آمَنَّا بِأَفْوَاهِهِمْ وَلَمْ تُؤْمِنْ قُلُوبُهُمْ ۛ وَمِنَ الَّذِينَ هَادُوا ۛ سَمَّاعُونَ لِلْكَذِبِ سَمَّاعُونَ لِقَوْمٍ آخَرِينَ لَمْ يَأْتُوكَ ۖ يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ مِنْ بَعْدِ مَوَاضِعِهِ ۖ يَقُولُونَ إِنْ أُوتِيتُمْ هَٰذَا فَخُذُوهُ وَإِنْ لَمْ تُؤْتَوْهُ فَاحْذَرُوا ۚ وَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ فِتْنَتَهُ فَلَنْ تَمْلِكَ لَهُ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا ۚ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ لَمْ يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يُطَهِّرَ قُلُوبَهُمْ ۚ لَهُمْ فِي الدُّنْيَا خِزْيٌ ۖ وَلَهُمْ فِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٌ

Hari Rasul, janganlah hendaknya kamu disedihkan oleh orang-orang yang bersegera (memperlihatkan) kekafirannya, yaitu diantara orang-orang yang mengatakan dengan mulut mereka: “Kami telah beriman”, padahal hati mereka belum beriman; dan (juga) di antara orang-orang Yahudi. (Orang-orang Yahudi itu) amat suka mendengar (berita-berita) bohong dan amat suka mendengar perkataan-perkataan orang lain yang belum pernah datang kepadamu; mereka merubah perkataan-perkataan (Taurat) dari tempat-tempatnya. Mereka mengatakan: “Jika diberikan ini (yang sudah di rubah-rubah oleh mereka) kepada kamu, maka terimalah, dan jika kamu diberi yang bukan ini maka hati-hatilah”. Barangsiapa yang Allah menghendaki kesesatannya, maka sekali-kali kamu tidak akan mampu menolak sesuatupun (yang datang) daripada Allah. Mereka itu adalah orang-orang yang Allah tidak hendak mensucikan hati mereka. Mereka beroleh kehinaan di dunia dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar.

Si ustadz melakukan kesalahan yang sama seperti yang dilakukan oleh Rabbi Yahudi, yaitu merubah-rubah ayat Allah.

Contohnya: inti ayat Asy Syura:21 adalah “tidak dibenarkan membuat syariat agama.” Lalu oleh si ustadz dirubah dengan menambahkan kata-kata “jika bertentangan dengan perintah Allah.”
Jadinya bunyi pesan yang ada menjadi: “tidak dibenarkan membuat syariat agama jika bertentangan dengan perintah Allah.”
Kalimat tambahan ini berdampak sangat jauh melampaui batas-batas agama, sehingga bisa menghalalkan yasinan, tahlilan, barjanji, perayaan maulid nabi dll.
Mereka berdalih: membaca yasin tidak dilarang. Mengucapkan tahlil (laa ilaaha illAllah) dan bertasbih diperintah oleh Allah. Dan seterusnya….

Membaca surah yasin, tahlil, tasbih, dsb memang tidak bertentangan dengan perintah Allah asalkan menurut cara yang benar. Tentan berdzikir dan membaca Al Quran Allah telah mengatur caranya:

ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ

Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.

وَاذْكُرْ رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ وَلَا تَكُنْ مِنَ الْغَافِلِينَ

Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.

Apa yang kita lihat cara mereka tahlilan, cara mereka bertasbih dan bertahmid, cara mereka berdoa jauh dari tuntunan Allah di atas. Mereka membaca dengan suara keras yang jelas-jelas dilarang. Juga cara mereka yasinan tidak sesuai dengan tuntunan ini:

وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Dan apabila dibacakan Al Quran, maka dengarkanlah dan perhatikanlah agar kamu mendapat rahmat.

Membaca Al Quran secara bersama sama tidak sejiwa dengan kandungan ayat ini. Cara yang benar ialah seseorang membaca ayat (apa saja, bukan melulu surah yasin) dan yang lain menyimak, bukan ikut-ikutan membaca secara bersamaan.

Kesimpulan:
1. Secara materi, bacaan-bacaannya tidak melanggar perintah Allah.
2. Secara teknis pelaksanaannya, mereka tidak sesuai dengan tuntunan Allah Sang Maha Guru.
3. Secara prosedural, prosesi tata cara, seremonial, ritual keagamaannya (dalam ayat dikatakan شرع من الدين) tidak pernah dicontohkan oleh nabi Muhammad. Maka dari itu disebut bid’ah, inovasi yang sesat karena sudah menyangkut urusan agama.

Isi memang sesuai dan tidak melanggar perintah Allah (point 1). Ini tidak menggugurkan kesalahan dalam cara melakukannya (poin 2) ataupun kesesatan ajaran ritual prosesi tahlilannya yang tidak dicontohkan nabi (point 3).

Posted from WordPress for Android

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s