Tahukah Kamu?

Shalawat dan Salam kepada Nabi: Antara Mitos & Fakta

image

Pada umumnya ayat ini diterjemahkan:

Sesungguhnya Allah dan malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawat  untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.
Surah Al-Ahzab,33:56

Ini adalah perintah Allah yang jelas. Oleh karena itu penting bagi kita untuk memahami apa arti ayat ini sebenarnya. Kita tahu bahwa dalam ayat ini terdapat dua perintah: 1. Shalluu ala an Nabiy; 2. Yusallimuu tasliima.

1. Arti, Pengertian Shalawat kepada Nabi (Shalluu ala an Nabiy).

Penting bagi kita mengkaji ulang penafsiran yang ada di kalangan umat Islam sekarang untuk kata-kata ini. Maka kita harus mencari tahu apakah penafsiran ini sejalan dengan salah satu yang terkandung dalam Al-Quran. Untuk melakukan hal ini, cara termudah adalah dengan mengajukan pertanyaan kepada orang Islam seperti, apa arti dari kata-kata (yang sederhana dan digunakan secara luas) ‘Shallii ala an Nabi’? (memberi Salawat untuk Nabi)

Anehnya, ketika sebagian besar umat Islam diminta untuk mengartikan kata-kata ini, mereka tidak benar-benar yakin! Mereka malah balik bertanya dan meminta penjelasan untuk mereka sendiri.

Pertanyaan sederhana untuk setiap Muslim adalah: Ketika Saudara mengatakan Shallii ala an Nabi, apa yang Saudara benar-benar mengerti? Apakah Saudara memuji Nabi? Apakah Saudara memohon kepadanya sehingga ia bisa memberi syafaat atas nama Saudara pada hari penghakiman, apakah Saudara menawarkan doa kepada Nabi agar Allah akan memberinya restu tertinggi? atau apa?

Jika Saudara belum memahami arti dari kata-kata yang sering diucapkan berulang kali dalam sehari, lalu bagaimana pandangan para cendikiawan Muslim?

Pertama, mereka akan mengatakan bahwa Allah telah secara eksklusif menghormati Muhammad di surah 33:56 ketika Allah mengatakan bahwa Ia dan malaikat memberikan Shalawat kepada Muhammad.

Segera, klaim ini disangkal oleh bukti Al Quran. Dalam Al Quran kita dapat membaca bahwa Allah dan malaikat-Nya juga memberikan Shalawat kepada orang yang beriman dan bukan hanya kepada Nabi. 

هُوَ الَّذِي يُصَلِّي عَلَيْكُمْ وَمَلَائِكَتُهُ لِيُخْرِجَكُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ ۚ وَكَانَ بِالْمُؤْمِنِينَ رَحِيمًا

Dialah yang memberi shalawat kepadamu dan malaikat-Nya supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya. Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman.
Surah Al-Ahzab,33:43

Kita juga dapat membaca di ayat ini:

أُولَٰئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ

Mereka itulah yang mendapat shalawat dan rahmat dari Rabbi mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.
Surah Al-Baqarah:157

Sekali lagi, makna yang sama dengan ayat 43 surah Al Ahzab. Oleh karena itu, mengatakan bahwa Allah secara eksklusif menghormati Nabi bertentangan dengan bukti ayat ayat Al Quran. 

Tapi masalah ini tidak berakhir di sini.  Di surah At Taubah:104 kita temukan Allah memerintahkan Nabi untuk memberikan Shalawat kepada orang orang yang beriman:

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ ۖ إِنَّ صَلَاتَكَ سَكَنٌ لَهُمْ ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Ambillah sedekah dari sebagian harta mereka.  Kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan beri shalatlah (bentuk tunggal kata shalawat) kepada mereka. Sesungguhnya shalat kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
Surah At-Taubah:103

Sekarang jika kata kerja ‘Yu’shallii‘ (memberi Shalat) dilakukan oleh Allah kepada orang-orang yang beriman, juga yang dilakukan oleh Nabi untuk orang yang beriman, bagaimana bisa penafsir mengatakan bahwa itu adalah suatu kehormatan eksklusif yang diberikan oleh Allah kepada Nabi?

Untuk keluar dari situasi sulit ini penafsir telah mengarang beberapa alasan konyol. Mereka mengklaim bahwa kata ‘Shalawat‘ memiliki tidak kurang dari lima makna yang berbeda !!

1- Pertama mereka akan mengatakan bahwa ketika Tuhan ber’Shalawat‘ kepada Nabi itu berarti menghormati secara eksklusif.

2- Ketika Allah ber’ Shalawat‘ kepada orang-orang beriman itu berarti memberikan rahmatnya kepada mereka.

3- Ketika para malaikat  ber’Shalawat‘ kepada nabi itu berarti terus-menerus memuji dia.

4- Ketika para malaikat  ber’Shalawat‘ untuk orang-orang percaya, atau ketika nabi melakukannya untuk orang-orang percaya, itu adalah dalam arti memohon rahmat Allah bagi mereka.

5- Ketika orang percaya ber’Shalawat‘ untuk nabi itu adalah tanda mencintai dia dan mengikutinya.

Sungguh tidak masuk akal. Bagaimana bisa kata perintah Allah yang sama identik kepada Nabi dan semua orang percaya tapi para cendikiawan memberitahu kita pengertian yang berbeda? 

Yang lebih mengkhawatirkan adalah bahwa, ternyata, tak satu pun dari lima arti yang mereka kemukakan benar! Untuk memverifikasi,  mari kita pelajari penggunaan kata ‘Shalat‘ (bentuk tunggal) atau ‘Shalawat‘ (bentuk jamak) dalam Al Quran. Segera kita temukan bahwa kata ‘Shalat’ telah disebutkan dalam Al-Qur’an sebagai berikut:

• ‘Shalat‘ untuk Allah, yang merupakan tindakan ibadah, seperti yang digunakan dalam ayat berikut:

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

Maka shalatlah untuk Tuhanmu; dan berkorbanlah.
Surah Al-Kausar,108:2

• ‘Shalat‘ Nabi kepada orang-orang beriman atau shalawat orang-orang beriman kepada Nabi sebagaimana disebutkan di dalam ayat sebelumnya.

Perbedaan antara dua penggunaan kata yang sama adalah terhubung dengan huruf atau kata yang ditempatkan segera setelah kata ‘Shalat.’

Kata ‘Shalat‘ yang diikuti dengan kata ‘Li‘ yang berarti untuk seperti dalam:

إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي

Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan selain Aku, maka mengabdilah kepada-Ku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.
Surah Ta Ha:14

Penggunaan kata pertama ini, berarti tindakan doa, yang dilakukan secara eksklusif untuk Tuhan.

Kata ‘Shalat‘ juga dapat diikuti dengan kata ‘Ala‘ yang berarti (ke, atau berikan kepada) seperti dalam surah Al Ahzab:56, :43 dan At Taubah:103.

Sekarang, jika ‘Shalat li‘ berarti tindakan menyembah Allah, apa arti kata ‘Shalat ala’‘?

Mengingat bahwa ayat ayat Al Quran itu jelas dan menjelaskan serta tidak ambiguous (dwimakna, tidak pasti), lebih lebih ayat yang mengandung perintah dan larangan, maka  apa yang Allah dan para malaikat lakukan kepada nabi (memberi Shalawat) harus memiliki arti yang sama seperti apa yang harus dilakukan orang percaya kepada Nabi. Jika ada yang menyarankan selain itu, maka mereka menyiratkan bahwa Al Quran adalah kumpulan teka-teki. Allah meyakinkan kita bahwa Al Quran tidak ambigu dan mudah dimengerti (Yusuf:1 dan Ad Dukhan:58).

Di sini kita mencapai inti permasalahan. Apa arti kata Shalat yang diberikan kepada Nabi? Apa arti yang sama yang bisa dilakukan oleh Allah dan oleh orang-orang percaya? 

Satu-satunya makna yang sama untuk kalimat ‘Shalawat ala an-Nabi’ yang ditemukan dalam Al-Quran dan yang dapat diterapkan pada Allah, malaikat-Nya dan untuk orang-orang percaya adalah ‘mendukung Nabi.’

Mengapa kata shalli ala berarti mendukung?

Kata shalla pada dasarnya berarti memohon, meminta. Pertanyaannya kemudian: memohon apa? Meminta apa?
Allah menjawabnya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

Hai orang-orang yang beriman, minta tolonglah dengan sabar dan shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.
Surah Al-Baqarah,2:153

Dengan shalat orang beriman memohon pertolongan. Jadi makna Allah dan malaikat yushalluuna ala an Nabi ialah Allah dan malaikat memberikan pertolongan kepada (menolong, membantu, menyokong, mendukung) Nabi!

Mendoakan sebagai terjemahan kata shalla ala’ separuh tepat. Mendoakan, selain berarti meminta ampunan, bisa juga bermakna mensupport, seperti dalam kalimat: “saya doakan semoga kamu jadian sama si anu.”
Artinya saya mendukung kamu berjodoh dengan si anu. Sayangnya terjemahan mendoakan ini tidak bisa diterapkan untuk Allah.
image

Masa Allah mendoakan ciptaan-Nya? Jadi terjemahan mendoakan di sini tidak tepat.

Shalawat diartikan rahmat juga tidak tepat, karena dengan gamblang Allah menyebut dua kata shalawat dan rahmat secara terpisah.

أُولَٰئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ

Mereka itulah yang mendapat shalawat dan rahmat dari Rabbi mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.
Surah Al-Baqarah:157

Kalau shalawat artinya rahmat, maka Allah menggunakan kata penjelas, misalnya yaitu, dia itu sehingga ayatnya berbunyi:

Mereka itulah yang mendapat shalawat, dan itu (yaitu) rahmat dari Rabbi mereka….

Sebagai perbandingan perhatikan pola kalimat dalam ayat ini:

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَكُمْ ۖ

Diwajibkan atas kamu berperang dan dia itu sesuatu yang kamu benci….

Di ayat ini Allah mewajibkan 1 perkara: perang. Kata sesuatu yang kamu benci adalah penjelasan soal kewajiban perang.

Ayat di atas akan lain pengertiannya kalau kata huwa(dia itu) dihilangkan, sehingga berbunyi: Diwajibkan atas kamu berperang dan sesuatu yang kamu benci (kebencian)….
Dengan redaksi seperti ini akan menghasilkan dua kewajiban: 1. kewajiban berperang dan 2. kewajiban kebencian (Eng.: hatred).

Dengan begitu penggunaan kata “dan” di surah Al Baqarah:157 mengindikasikan bahwa pengertian kata shalawat berbeda dengan pengertian kata rahmat.

Bersambung ke postingan: “Shalawat dan Salam kepada Nabi: Antara Mitos & Fakta (2)”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s