Jalan Thaghut

Nama Jamaah Muslimin, Nama Firqah dan Nama Agama

image

Nama Sebuah Jamaah (min) Al Muslimin

Dalam bentuk tunggal, orang yang berserah diri dan patuh kepada kehendak hukum Allah disebut seorang muslim. Si muslim ini namanya bermacam-macam. Ada yang bernama Abdullah, Umar, Salman dsb. Dalam bentuk jamak, orang-orang muslim ini disebut jamaah (kaum) muslimin. Kata lain yang tercantum di Al Quran ialah ummat(an) muslimat(an).

Apakah ada dasar hukumnya memberikan nama kepada ummat muslimat/jamaah muslimin? Misalnya Jamaah (kelompok) Boko Haram, Al Qaeda dsb. Saya tidak melihat satu alasan yang melarangnya. Menurut pandangan saya menamakan suatu jamaah seperti menamakan seseorang. Sewaktu anak kita lahir, orang tua memberinya  nama. Yang dilarang adalah mengkultuskan yang punya nama itu, apakah itu nama seseorang ataupun nama sebuah kelompok. Ketika nama itu diagungkan, dipuja dan dianggap sebuah kebenaran, jadilah nama itu sebuah firqah. Sedangkan bila nama itu hanya sekedar sebutan, bukan sesuatu yang diperjuangkan, maka nama itu sah-sah saja.<!–more-baca selengkapnya->

Nama Sebuah Firqah

Firqah bukanlah bagian dari ummat muslimat/jamaah muslimin. Agar lebih jelas saya berikan dua buah contoh.

250px-Lembaga_Dakwah_Islam_Indonesia_(_LDII_)Contoh pertama ialah kelompok LDII. Ini kelompok satu-satunya, sejauh yang saaya tahu, yang mengkaji Al Quran dan Al Hadis langsung dari sumbernya. Kelompok ini tidak mengkaji kitab-kitab kuning karangan para ‘ulama’ terdahulu. Ternyata ini tidak menjamin kelurusan agama mereka.

Di mana letak kesesatan kelompok ini? Pertama, kelompok ini berlindung di bawah/kepada pohon Beringin. Ketika Orde Baru yang dikuasai oleh partai berlogo pohon Beringin, kelompok ini bertawalli (mengangkat sebagai wali) kepada penguasa zalim. Sebagai seorang muwahid, seharusnya berlindung kepada Allah dari ajakan setan, bukan berlindung kepada pohon yang menjadi sarang setan.
Ke-dua, Warna merah putih menunjukkan bahwa kelompok ini berjiwa/beraliran nasionalis dan sekuler. Ke-tiga, Mereka berbadan hukum thaghut. Dokumen di bawah ini menunjukkan badan hukum kelompok ini.

Badan_Hukum_LDII_sebagai_Ormas

 

 

Contoh ke-dua yaitu kelompok Nahdatul Ulama. Kelompok ini secara terbuka telah menyatakan permusuhannya dengan para muwahidin penegak hukum Allah. Ini sudah menjadi bukti kelompokj ini bukan muwahid. Dalam kaitan ini akan saya jelaskan mengapa kelompok NU bukan muwahid (yang mengesakan Allah).

Para tokoh kelompok ini kerap menyerukan pandangan hidup pluralisme. Plural berari jamak atau lebih dari satu. Lawan katanya ialah singular yang berarti tunggal, esa. Seorang penganut paham pluralisme mempertahankan dan menghormati, eksistensi keberagaman pandangan hidup. Berbeda dengan seorang muwahid yang menyeru manusia untuk meninggalkan semua pandangan hidup yang menyimpang dan mengajak untuk mengabdi kepada Tuhan yang satu (singular).

Paham pluralisme ini sebenarnya sudah ada sejak zaman nabu Nuh. Ini dijelaskan dalam surah Nuh 23

وَقَالُواْ لَا تَذَرُنَّ ءَالِهَتَكُمۡ وَلَا تَذَرُنَّ وَدًّ۬ا وَلَا سُوَاعً۬ا وَلَا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسۡرً۬

Dan mereka berkata: “Jangan sekali-kali kamu meninggalkan [penyembahan] tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan [penyembahan] wadd, dan jangan pula suwaa’, yaghuts, ya’uq dan nasr.”

Dalam bahasa seorang Abdurachman Wahid, ayat diatas bisa diterjemahkan: Jangan kamu tinggalkan NU, Syiah, Ahmadiyah dan jangan pula kamu meninggalnan pengabdian kepada masyarakat, NKRI dan  Pancasila.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s