Jalan Thaghut

Mereka Mengaji Hadis Malah Sesat

وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَشۡتَرِى لَهۡوَ ٱلۡحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ بِغَيۡرِ عِلۡمٍ۬ وَيَتَّخِذَهَا هُزُوًا‌ۚ أُوْلَـٰٓٮِٕكَ لَهُمۡ عَذَابٌ۬ مُّهِينٌ۬

Dan di antara manusia [ada] orang yang mempergunakan Al Hadis yang tidak berguna untuk menyesatkan [manusia] dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan.

Orang tua saya punya kontrakan. Salah seorangpenghuninya adalah aktivis sebuah jamaah yang sangat berpegang pada kitab Al Hadis di samping kitab Al Quran. Seminggu tiga kali ia mengaji dengan membawa kitab suci Al Quran dan kitab-kitab hadis riwayat Al Bukhari, Muslim, ibnu Majah, dll. Kitab hadis yang dibawa masih kosong, asli bertuliskan bahasa Arab, tanpa terjemahan. Nanti di pengajian sang muballigh yang menterjemahkan kata per kata dan jamaah mencatat terjemahannya tepat di bawah kata kata Arabnya.

Melalui dialah kedua orang tua saya mengenal ajaran kelompok yang dulu menamakan diri Darul Hadis. Hingga sekarang orang tua saya dan adik-adik saya menjadi pengikut yang fanatik terhadap jamaah tersebut. Saya juga pernah mengikuti pengajian mereka.. Tidak lama, hanya sekitar setengah tahun. Setelah itu putus.<!–more-baca selengkapnya->

Berpegang pada Al Hadis namun pada saat yang sama bertentangan dengan sunnah rasul.

Di antara Lembaga Dakwah yang ada di Indonesia, jamaah inilah yang benar-benar serius mengkaji kitab-kitab Al Hadis langsung dari sumbernya. Lalu mengapa saya berhenti.mengaji? Ya itu karena di pengajian ini tidak memberi saya kesempatan untuk bertanya apalagi membantah atau mengkoreksi. Abu Bakar saja, menurut riwaayat, ketika diangkat menjadi khalifah berpidato yang salah satu pointnya meminta untuk diluruskan bilamana beliau salah dan Umar ketika itu menyambutnya dengan kata-kata siap untuk meluruskan Abu Bakar dengan pedangnya.

Mereka telah salah memahami makna dakwah. Bagi mereka dakwah itu mengajak mengaji ke kelompok mereka. Di pengajian itulah seseorang diberikan pelajaran lebih lanjut. Dakwah yang benar dalam pemikiran saya iaalah mengajak manusia yang ada pada kegelapan (di bawah naungan setan, thaghut) menuju cahaya (pimpinan Allah). Dalam proses inilah terjadi benturan-benturan. Ada yang cuek, mencemooh dan ada juga yang membantah. Di sinilah tugas rasul untuk menjelaskan dan menjawab bantahan-bantahan orang jahil.

Dalam kisah (hadis) Musa digambarkan bagaimana nabi Musa shallAllahu alaihi wasallam setuju mengadakan janji untuk bertemu dan saling melemparkan tali temali (baca:argumen). Ini menjadi bukti bahwa berdebat boleh-boleh saja. Malah ada perintah untuk berdebat di dalam Al Quran.

Inilah yang menjadi alasan saya tidak lagi mengaji pada jamaah tersebut. Taruhlah mereka ada di barisan yang paling benar sebagaimana yang sering mereka klaim, mengapa mereka tidak berani bersikap seperti nabi Musa bertatap muka kepada orang yang jelas akan membantahnya?

Al Hadis Pengalih Issu

Dengan tulisan ini saya tidak bermaksud menghalang-halangi siapa saja yang ingin memperdalam kitab Al Hadis. Saya hanya ingin menyampaikan pesan supaya Saudara memiliki konsep yang jelas serta berhati-hati dalam melihat Al Hadis.

Para Ahli Kitab yang fasik selalu berupaya menyesatkan ummat. Kitab Al Hadis dan ayat-ayat mutasyabihat menjadi alat mereka untuk mencapai maksud ini. Di antaranya umat dibuat sibuk mempelajari kitab-kitab hadis dalam masalah furu (cabang, ranting); membuat umat berpanjang-panjang dalam berdebat masalah apakah shalat itu pakai ushalli atau tidak misalnya, atau apakah tahlilan itu bidah atau bukan? dll. Pada akhirnya mereka melupakan akar dan pokok ajaran agama Allah. Ummat dipalingkan pada ayat-ayat tentang kafir kepada thaghut. Kalaupun ada yang bertanya tentang thaghut, si Ahli Kitab yang fasik menjawab sepintas dan mengatakan jika thaghut itu setan. Lalu dibahaslah melalui hadis hadis yang bertemakan setan dan ria. Pembicaraan yang awalnya tentang thaghut akhirnya menjadi pembicaraan tentang amal yang ikhlas dan menjauhi sifat ria.

Lahwa Al Hadis

Kata Al Hadis pada ayat di atas sengaja tidak saya terjemahkan untuk menyingkap tabir yang selama ini ditutup-tutupi.

Para ahli hadis sering tidak menterjemahkan kata hadis ketika bicara soal kitab Al Bukhari, Muslim dan lainnya. Anehnya ketika kata hadis terdapat di dalam Al Quran mereka terjemahkan ke dalam bahasa indonesia. Mengapa mereka tidak membiarkan saja kata hadis, tanpa terjemah?

Hadis Nabi tidak mungkin bertentangan dengan kitabullah.

Misalkan ada sebuah hadis yang katanya berasal dari ucapan nabi tetapi isinya berlawanan dengan ketetapan Allah, pastilah hadis itu hadis palsu. Inilah salah satu yang dimaksud dengan Lahwa Al Hadis.

Pada postingan  “apakah semua thaghut kafir” (salah paham tentang thaghut) dan 10 fakta tentang Zalim sudah tegas dan jelas bagaimana status thaghut dan orang (penguasa) yang zalim. Para pembela thaghut akan menggunakan hadis hadis seperti di bawah ini (dan ayat ulil amri minkum yang mutasyabihat) untuk membantah dan mengalihkan firman Allah yang sudah muhkamat menjadi kabur (samar-saamar). Di antaranya pendapat ini:

Wajib taat pada penguasa sekalipun mereka berlaku zhalim

عن عبد الله بن مسعود t  قال قال رسول الله  صلى الله عليه وسلم  ثم إنها ستكون بعدي أثرة وأمور تنكرونها قالوا يا رسول الله كيف تأمر من أدرك منا ذلك قال تؤدون الحق الذي عليكم وتسألون الله الذي لكم (رواه مسلم: 3//1472 (1843)

Dari Abdullah bin mas’ud ia berkata telah bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Akan datang sesudahku kezhaliman, dan tindakan-tindakan yang kalian ingkari.” Lalu para sahabat bertanya, “ya Rasulullah apa nasehat engkau bagi orang yang mendapat keadaan yang demikian, lalu Beliau bersabda: “Tunaikan kewajiban yang dibebankan kepada kalian, dan minta kepada Allah sesuatu yang untuk kalian”.

سأل سلمة بن يزيد الجعفي t رسول الله  صلى الله عليه وسلم فقال: يا نبي الله أرأيت إن قامت علينا أمراء يسألونا حقهم ويمنعونا حقنا فما تأمرنا فأعرض عنه ثم سأله فأعرض عنه ثم سأله في الثانية أو في الثالثة فجذبه الأشعث بن قيس وقال اسمعوا وأطيعوا فإنما عليهم ما حملوا وعليكم ما حملتم (رواه مسلم: 3/ 1474 (1846)

Salamah bin Yazid Al Ju’fiy bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Wahai Nabi Allah bagai mana pendapat engkau bila diangkat diatas kami pemimpin-pemimpin yang menuntut segala hak mereka, tetapi mereka menahan hak-hak kami, apa perintahmu untuk kami ya rasulullah?, maka Rasulullah berpaling darinya, sampai ia tanyakan tiga kali namun rasulullah tetap berpaling darinya. Kemudian Al Asy’ast bin Qais menariknya dan berkata: “Dengar dan taati, sesungguhnya mereka tanggung jawab terhadap apa yang dibebankan atas mereka dan kalian bertanggung jawab terhadap apa yang dibebankan atas kalian”. Wajibnya menjaga persatuan kaum muslimin dan haramnya memecah belah kaum muslimin.

Cobalah lihat dalil-dalil yang mereka gunakan. Semuanya hadis yang bertentangan dengan ayat-ayat Allah. Tak ada satu ayatpun yang mendukung bolehnya taat kepada penguasa yang zalim.

Mereka meninggalkan Al Quran!

Orang-orang yang berpegang teguh pada hadis seperti pada contoh di atas telah meninggalkan ayat-ayat Al Quran sebagai pijakan utama dalam mengampil kesimpulan (keputusan).

وَقَالَ ٱلرَّسُولُ يَـٰرَبِّ إِنَّ قَوۡمِى ٱتَّخَذُواْ هَـٰذَا ٱلۡقُرۡءَانَ مَهۡجُورً۬ا

Berkatalah Rasul: “Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al Qur’an ini suatu yang ditinggalkan

Al Quran adalah Al Hadis yang paling baik dan benar!

Fakta ini yang sengaja tidak pernah diungkap oleh Ahli Kitab yang fasik.

ٱللَّهُ لَآ إِلَـٰهَ إِلَّا هُوَ‌ۚ لَيَجۡمَعَنَّكُمۡ إِلَىٰ يَوۡمِ ٱلۡقِيَـٰمَةِ لَا رَيۡبَ فِيهِ‌ۗ وَمَنۡ أَصۡدَقُ مِنَ ٱللَّهِ حَدِيثً

 Allah, tidak ada Tuhan [yang berhak disembah] selain Dia. Sesungguhnya Dia akan mengumpulkan kamu di hari kiamat, yang tidak ada keraguan terjadinya. Dan siapakah yang lebih benar hadis [nya] daripada Allah. (An Nisa 87)

ٱللَّهُ نَزَّلَ أَحۡسَنَ ٱلۡحَدِيثِ كِتَـٰبً۬ا مُّتَشَـٰبِهً۬ا مَّثَانِىَ تَقۡشَعِرُّ مِنۡهُ جُلُودُ ٱلَّذِينَ يَخۡشَوۡنَ رَبَّہُمۡ ثُمَّ تَلِينُ جُلُودُهُمۡ وَقُلُوبُهُمۡ إِلَىٰ ذِكۡرِ ٱللَّهِ‌ۚ ذَٲلِكَ هُدَى ٱللَّهِ يَہۡدِى بِهِۦ مَن يَشَآءُ‌ۚ وَمَن يُضۡلِلِ ٱللَّهُ فَمَا لَهُ ۥ مِنۡ هَادٍ

Allah telah menurunkan Al Hadis yang paling baik [yaitu] Al Qur’an yang serupa [mutu ayat-ayatnya] lagi berulang-ulang  gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada seorangpun pemberi petunjuk baginya.

 Dan menurut firman (hadis) Allah, sikap seorang muslim kepada orang yang melampaui batas ialah:

Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka [karena] mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas. (Al Kahfi 28)

Dan itulah [kisah] kaum ’Aad yang mengingkari tanda-tanda kekuasaan Tuhan mereka, dan mendurhakai rasul-rasul Allah dan mereka menuruti perintah semua penguasa yang sewenang-wenang lagi menentang [kebenaran]. (Hud 59)

“…maka bertakwalah kepada Allah dan ta’atlah kepadaku; dan janganlah kamu menta’ati perintah orang-orang yang melewati batas, yang membuat kerusakan di muka bumi dan tidak mengadakan perbaikan.”  (Asy Syuara 149-152)

Setelah membaca ini,

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s