Tahukah Kamu?

Sebuah Kisah Nyata: Kehidupan Muhajirah di Daulah Islamiah

Saya ingin menceritakan dan berbagi pengalaman tentang perjalanan saya di Suriah. Saya berharap ini dapat menghapus keraguan yang mungkin Anda miliki.

Beberapa di antara Anda mungkin berpikir saya seorang agen yang tidak masuk akal. Dan beberapa dari Anda berpikir kalau wanita tidak mempunyai peran di sini. Sekali lagi Anda salah!

Saya datang ke Suriah di bulan Februari tahun ini. Selama 20 hari saya tinggal di Makkar di utara Suriah, Slouki.
Kemudian, para ikhwah (dengan beberapa ikhwah yang  tinggal bersama saya di makkar) dan saya dibawa ke Tabqah. Ketika saya datang ke sini, teman saya (Umm Yusuf ? Anda harus tahu dan ingat dia) bilang ke ikhwah setempat bahwa saya seorang dokter.

Berita itu menyebar begitu cepat dan amir datang untuk memastikan hal ini.
Dia mengirim perwakilan (Umm al Libi Dujana) untuk membahas beberapa masalah dengan saya. Dia menawarkan saya untuk bekerja di Daulah, dan Daulah akan memberikan rumah (untuk digunakan sebagai klinik) dan menyediakan semua peralatan. Saya tidak punya masalah dengan tawaran itu, namun saya menolak. Alasannya hanya satu – Orang-orang berbicara bahasa Fusha  dan saya tidak mengerti sama sekali. Bahasa Arab saya sangat buruk, dan saya takut dengan memiliki klinik, saya akan memiliki tanggung jawab yang besar dalam mendidik pasien saya.

Menjadi dokter adalah lebih dari mendiagnosis penyakit mereka. Anda harus memberitahu dan menjelaskan kepada mereka bagaimana mereka mendapat penyakit ini.   Apa yang harus dilakukan dan apa yang dipantang.
Tapi saya mengatakan kepada amir saya bisa bekerja untuk hal sederhana seperti perawatan kesehatan primer. Mendiagnosis dan merujuk mereka ke rumah sakit Tabqah. Karena saya kehilangan koper, Daulah memberi saya beberapa peralatan seperti stetoskop, sphygmomanometer, Accu-Check dan beberapa obat seperti antibiotik spektrum luas.

Para wanita dan anak-anak datang ke rumah saya. Dan apa yang harus saya lakukan adalah memeriksa, mendiagnosa dan memberikan obat yang mereka butuhkan. Saya juga memberikan vaksinasi kepada anak-anak dan mendampingi wanita hamil (tekanan darah bulanan dan glukosa check-up).

Umm Yusuf, Umm Salah dan Umm Zayd yang membantu saya untuk menerjemahkan keluhan mereka dari fusha Suriah ke bahasa Arab (Pada saat ini saya dapat berbicara bahasa Arab yang lebih baik seperti yang saya pelajari dari buku-buku dan kamus yang diberikan oleh amir).

Beberapa hari setelah saya menikah, seorang ikhwah datang ke saya dengan nyeri pinggang kanan yang parah. Selama pemeriksaan, saya mencatat tanda Mc. Burney dan tanda psoas yang positif. Itu adalah tanda yang jelas untuk usus buntu sehingga kami berdua pergi ke rumah sakit Tabqah untuk penyelidikan lebih lanjut.

Echo yang memperlihatkan abses dan investigasi darah menunjukkan tanda yang jelas dari infeksi bakteri (jumlah sel darah putih tinggi).
Saya mengatakan kepadanya bahwa ia harus dioperasi (apendisektomi) sebelum pecah. Saya mengingatkan dia untuk tidak makan, jadi dia bisa menjalani operasi pada hari yang sama. (semua pasien di bawah sedasi perlu berpuasa selama 8 jam sebelum operasi).

Kami berempat, Umm Anas dan Abu Anas, saya dan suami saya pergi ke rumah sakit Raqqah pada hari yang sama setelah penyelidikan dilakukan di Rumah Sakit Tabqah.
Setelah kami mencapai Raqqah Hospital, saya bertemu dengan seorang dokter mujahid, Abu Muhammad al Masri. Dia adalah seorang dokter bedah muda. Dengan suami di samping saya, saya menjelaskan kepadanya kondisi dan menunjukkan semua hasil. Dia kemudian merujukll kasus ini ke seorang ahli bedah senior yang (saya tidak ingat namanya tapi dia orang Suriah dan sangat, sangat baik).

Saya bertemu dengan ahli bedah senior dan menjelaskan kepadanya lagi. Dia meminta saya untuk melakukan pemeriksaan di depannya, jadi saya lakukan. Awalnya dia tidak puas karena ia percaya abses dapat disebabkan oleh banyak hal dan rasa sakit dapat disebabkan oleh tabung kehamilan tetapi Al Alhamdulillah saya punya bukti untuk meyakinkan dia.

Apendisektomi dilakukan – temuan yang mengerikan. Dia juga menderita peritonitis yang berarti infeksi telah menyebar ke perutnya. Namun Al Alhamdulillah semuanya berjalan dengan baik.

Selama tiga hari, Umm Anas dan saya tinggal di rumah sakit untuk observasi dan dia diberi antibiotik intravena.
Sebelum pergi dokter menawarkan saya untuk bekerja di rumah sakit tapi saya menjelaskan kepadanya masalah saya dan ia mengerti.

Ini adalah bagaimana – sistem dalam Negara Islam, penduduk setempat dan orang asing saling bekerja bersama-sama.Alhamdulillah saya senang bertemu dengan mereka.

* Saat ini saya sedang tidak bekerja setelah didiagnosa dengan hiperemesis gravidarum pada kehamilan awal saya jadi saya mengambil cuti panjang.

Bird Of Jannah, Syria.

Posted from WordPress for Android by Millah Ibrahim

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s