Jalan Allah

Mereka Yang Berpisah Dari Kabilah Mereka

image
pergi meninggalkan kampung halaman (suku bangsa) menuju kebebasan menjalankan agama Allah

Ibn Mas’ūd radhiyAllāhu anh berkata bahwa Rasulullah shallAllāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

Sesungguhnya Islam (sikap berserah diri) datang dalam keadaan asing dan ia akan kembali menjadi asing sebagaimana awal mula kedatangannya.  Maka beruntunglah orang-orang yang asing. Ada yang bertanya, Siapakah yang dimaksud dengan orang-orang asing?. Beliau menjawab, Yaitu orang-orang yang memisahkan diri dari kabilah-kabilah (suku-suku) mereka.” [Riwayat Imam Ahmad, ad-Darimi, dan  Ibn Majah, dengan sanad Shahih]

Imām Abū Mus’ab azZarqāwī (rahimahullah) berkata, “Allah telah menggambarkan para Ghuraba’(orang-orang asing) ini dengan beberapa karakteristik, diantaranya adalah mereka ‘nuzza’ dari orang-orang, atau ‘nuzza’ dari kabilah mereka. Kata ‘nuzza’ adalah bentuk jamak dari ‘nazi’ dan arti dari ‘nazi’ adalah orang asing yang memisahkan diri dari keluarga dan kabilahnya [artinya dia pergi dan menjauhkan dirinya dari mereka], dan ‘naza’i’ dari untaunta adalah orang luar.

Al Harawi (rahimahullah) berkata, ‘Dengan hadits ini Rasulullah (shallAllāhu ‘alayhi wa sallam) memaksudkan dengan para muhajirin yang telah meninggalkan tanah air mereka dan berhijrah demi Allah ta’ala” [alQābidūna ‘alalJamr].

Al Baghawī (rahimahullāh) berkata dalam SyarhusSunnah: “Rasulullah (shallAllāhu ‘alayhi wa sallam) memaksudkan dengan para muhajirin yang telah meninggalkan tanah air mereka dan berhijrah demi Allah ‘azza wa jalla.”

Ibnul Atsir (rahimahullah) juga menyatakan demikian dalam An Nihayah. As Sindi menyatakan bahwa  Mereka adalah yang meninggalkan tanah airnya untuk menegakkan Sunnatullah.” [Kifāyatul-Hājah]. Al-Kalābādhī berkata, “Jadi jika situasinya demikian [maksudnya, agama ini telah menjadi asing bagi manusia], maka orang-orang yang beriman diantara manusia adalah ibarat orang-orang beriman pada masa Rasulullah (shallAllāhu ‘alayhi wa sallam). Maka seseorang yang meninggalkan kabilahnya maka dia adalah seorang Muhajir yang berpisah dari keluarganya, hartanya dan tanah airnya, dan beriman kepada Allah dan membenarkan kejujuran (ucapan) Nabinya. Allah telah memuji orang-orang yang beriman atas iman mereka terhadap yang ghaib, sebagaimana Allah berfirman: “Mereka yang beriman kepada yang ghaib.” [AlBaqarah:3].

Para shahabat Rasulullah (shallAllāhu ‘alayhi wa sallam) beriman kepada apa yang mereka saksikan dan juga apa yang tidak bisa mereka saksikan, dengan keimanan mereka kepada Allah dan Hari Kiamat tanpa pernah menyaksikan keduanya, dan mereka beriman kepada Rasulullah (shallAllāhu ‘alayhi wa sallam) setelah melihat dan menyaksikan beliau.

Wahyu telah diturunkan kepada beliau di tengah-tengah para Sahabat, dan mereka melihat tanda-tanda dan menyaksikan mu’jizat. Golongan akhir dari Umat ini beriman kepada apa yang diimani oleh golongan umat awal terhadap hal yang ghaib, dan beriman kepada apa yang diimani oleh golongan awal dari umat sebagai saksi mata. Golongan akhir ini beriman kepada Rasulullah (shallAllāhu‘alayhi wa sallam), sedangkan mereka tidak pernah menyaksikan beliau. Karena itulah mereka menjadi orang-orang yang paling menakjubkan dalam keimanannya, sebagaimana yang diriwayatkan dalam hadits dari Ibn ‘Abbās (radhiyAllāhu ‘anhumā) bahwa Rasulullah (shallAllāhu ‘alayhi wa sallam) bersabda: “Orang yang paling menakjubkan imannya adalah orangorang yang datang sesudah (wafatnya) aku. Mereka beriman kepadaku tanpa pernah melihatku. Dan mereka membenarkanku tanpa pernah melihatku. Mereka itulah saudara- saudaraku.” [Riwayat Imam Ahmad]

IbnulQayyim (rahimahullāh) berkata, “Sesungguhnya Allah subhānahū mengutus RasulNya, sementara manusia di bumi sedang mengikuti bermacammacam agama. Diantara mereka ada penyembah berhala, penyembah api, penyembah gambar, penyembah salib, Yahudi, Mandaean, dan aliran filsafat. Ketika Islam pertama kali muncul, Islam merupakan sesuatu yang aneh, dan bagi siapapun yang memeluknya dan menyambut seruan Allah dan Rasul Nya menjadi seseorang yang asing di wilayahnya, kabilahnya, keluarganya, dan sukunya. Jadi mereka yang menyambut da’wah Islam meninggalkan kabilahnya. Sebetulnya, para individu itu lah yang hijrah dari kabilah dan suku mereka, dan masuk Islam. Oleh karena itu, pada hakikatnya mereka adalah orang-orang asing, sampai Islam telah Nampak, da’wahnya tersebar, dan orang– orang berbondong-bondong memasukinya, setelah itu mereka tidak menjadi asing lagi. Lalu Islam mulai terpecah dan memudar, sampai kembali menjadi sesuatu yang asing sebagaimana awal mulanya. Sebenarnya, Islam yang sejati yang ada pada Rasulullah (sallallāhu ‘alayhi wa sallam) dan para Shahabatnya, adalah sesuatu yang jauh lebih asing hari ini, daripada ketika awal kemunculannya, bahkan jika wajah dan karakteristiknya diketahui dan terkenal. Islam yang sejati itu sangatKarena pengikutnya adalah yang paling asing diantara sangat asing, dan orang orang asing yang ada diantara manusia.” [MadārijusJadi, orang Sālikīn].orang asing (al Ghuraba’) adalah mereka yang pergi meninggalkan keluarganya dan tanah airnya, berhijrah demi ridho Allah dan demi menegakkan Dien ‘ghutsā’ assayl’ , Nya. Pada zaman mereka adalah makhluk ciptaan Allah yang paling menakjubkan imannya, dan yang paling asing dar keseluruhan makhluk yang ada.

Posted from WordPress for Android by Millah Ibrahim

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s