Tak Berkategori

Pengakuanku: Hidup di Daulah Islamiah (Islamic State) Bagian 2

image

Kami tiba di tempat dan lkhwan yang mengendarai mobil meminta kami untuk masuk ke dalam rumah.
Tiba-tiba aku teringat sesuatu. Tasku tidak ada. Aku baru saja kehilangan setelanku! Aku menatap Umm Yusuf dan berkata dengan nada panik berulang kali. Tasku! Tasku! Tapi ia tidak bisa mengerti apa yang kukatakan padanya.
Aku masuk ke dalam rumah dengan hati yang sedih. Pemilik rumah, Umm Ahmed menyambut kami. Aku melihat semua orang dengan tas mereka, kecuali aku. Hatiku mulai mengutuk diri sendiri karena aku sudah diingatkan berulang kali untuk membawa backpackku, namun aku terlalu keras kepala!

Beberapa menit kemudian, para ikhwah yang tinggal di rumah itu datang dan menyambut kami. Aku melihat mereka – semua orang Arab. Aku adalah satu-satunya non-Arab. Aku menarik napas dalam-dalam dan berbisik,
“Kasihanilah aku, ya Allāh”.
Umm Ahmed memintaku untuk membersihkan diri. Aku mengatakan kepadanya: ” Aku tidak punya tas.” Aku mengambil tas Umm Salah dan mengulangi: “itu!”
sambil menunjuk ke tas. Umm Ahmed mengerti dan dia memberiku abaya.

Aku menunggu giliranku. Ada sekitar 20 ukhti, semuanya orang Arab. Aku percaya mereka datang dari berbagai negara. Giliranku tiba dan aku memasuki kamar kecil.

“Oh!” Bisik hatiku. Aku tidak pernah berbagi toilet. Aku tidak pernah menggunakan toilet umum. Ya. Aku adalah seorang gadis manja dan aku bahkan tidak membolehkan saudariku untuk memakai toilet pribadiku.

Aku mengganti pakaianku tapi aju tidak bisa menahan diri dari menggigil. Umm Zayd menyadari bahwa aku hanya memakai selapis kain, jadi dia memberiku piyama (tebal) dan kaus kaki.

Aku terlalu lelah. Aku salat Subuh dan menunggu matahari terbit. Sementara menunggu, aku diperkenalkan dengan kamar teman-teman baru kami. Umm Umamah dan ibunya, dari Tunisia.

Mereka mempersiapkan kami tidur dan beberapa menit kemudian Umm Ahmed datang dan melayani kami dengan beberapa teh, roti, telur rebus hangat dan keju. Aku minum dmkemudian tidur.
“Shams, yalla ghada”
Umm Salah membangunkan aku dengan lembut. Aku bangun, makan siang dan setelah itu salat zuhur. Kemudian aku bergabung dengan teman teman dan menjadi pendengar yang baik. Beberapa dari mereka bertanya kepadaku dan setiap kali aku memberi mereka jawaban yang sama:
Assefa, la arabi“.
Hanya Umm Yusuf dan Umm Zayd bisa mengerti aku . Berbahagialah bahwa tangan dapat berbicara dengan bahasa yang tidak membutuhkan suara.

Hari berlalu, aku menjadi drop. Padahal aku sudah beradaptasi dengan lingkungan dan mulai bisa berkomunikasi dengan lebih baik. Tapi hati dan pikiranku tetap gelisah. Aku selalu teringat dengan Orang tuaku. Aku sangat khawatir – tidak tahu bagaimana keadaan mereka.
Malam itu, aku mengambil mantel musim dingin Umm Umamah dan pergi ke atap. Aku menatap foto keluargaku di ponsel dan menangis. Dingin tidak menggangguku sebanyak hatiku jauh dalam rasa sakit dan penderitaan.

Beberapa menit kemudian, aku melihat cahaya. Seseorang datang ke atap.
Shams …. Weyn anti?” (Shams …. Di mana kau?)
Aku mengarahkan cahaya ponselku ke Umm Yusuf. Dia datang dan duduk di sampingku.
Aku menatapnya dan menunjukkan foto keluargaku. Aku perkenalkan setiap dari mereka. Aku tidak tahu bagaimana mengatakannya dalam bahasa Arab, jadi aku hanya bilang:
Ana uhibbuk mama wa baba. Ana ureed mama wa baba.” ( Aku mencintau ibu dan ayahku. Aku menginginkan ibu dan ayahku).
Dia tidak mengucapkan sepatah kata pun. Dia memelukku dan memintaku untuk tidur.

Hari berikutnya aku bahkan menjadi jauh lebih buruk. Aku berbaring di tempat tidur sepanjang hari dan menolak untuk makan. Setelah salat zuhur, aku tidur dan berharap – semoga terjadi keajaiban.

“Shams!”
Umm Zayd mengguncang tubuhku. Aku membuka mata dan melihat semua orang sedang duduk melingkar di sekitarku. Aku duduk dan bertanya,
Maza?” (Mengapa?)
Umm Ahmed menyodorkan kartu biru. Aku membacanya: “Turkcell.” Aku tidak bisa mengangkat kepalaku. Air mataku mengalir. Sedih, senang, malu, emosiku bercampur aduk.
Hallu Mama. Hallu Baba.” Kata Umm Ahmed.
Baba taliphone …” Umm Salah bernyanyi. (Ini adalah nasyid untuk anak-anak, Kamu dapat mencarinya di youtube).
Semua orang tertawa. Umm Salah menambahkan,
La Akel la taliphone ..” (Jika kamu tidak makan, kamu tidak dapat menelpon mereka)
Aku setuju. Hatiky amat bahagia.
Al Alhamdulillah!” Aku mengulangi lagi dan lagi.

Posted from WordPress for Android

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s