Profil Mujahid

Perjalanan Hijrah Ummu Sabrina – Bagian 3

JUMAT, 04 JULI 2014

Alhamdulillah…
Sang Maha Pemurah, mengabulkan do’a Ummu Sabrina…

Dia lah Allah yang Maha Pemurah, Maha Kuasa dan berkehendak. Hanya kepada-Nya lah kita mengadu dan hanya kepada-Nya lah kita memohon pertolongan.


Singkat cerita, passport sudah tidak lagi menjadi masalah. Biaya perjalanan pun sudah matang dipersiapkan.

Pada hari keberangkatan, tepatnya ketika mereka sudah berada di Bandara Soekarno-Hatta, penampilan Ummu Sabrina pun berubah lebih “moderat”. Sang suami tidak perlu banyak merubah penampilan nya, hanya pakaiannya saja terlihat lebih modis.

Sesuai jadwal waktu keberangkatan pesawat, ummu sabrina beserta keluarga kecilnya terbang meninggalkan Indonesia untuk selama lama nya. Tidak terbersit sedikitpun dalam pikirannya untuk kembali lagi menjalani hidup di tanah air Indonesia, Negeri yang berada dalam naungan hukum syirik buatan manusia.
GOOD BYE ALL !!!

Setelah 12 jam penerbangan, sekitar jam 5.00 pagi pesawat yang mereka tumpangi transit di kota Doha, Qatar. Keluarga Ummu Sabrina pun menggunakan waktu itu untuk melaksanakan sholat shubuh dan mencari sarapan.

Delay 2 jam !! Seharusnya tepat jam 7.00 waktu setempat pesawat itu harus melanjutkan perjalanan menuju kota Istanbul. Akan tetapi sang pilot malah menunda untuk melanjutkan perjalanannya entah untuk alasan apa… Akhirnya jam 9.00 mereka melanjutkan penerbangannya kembali.

Tepat jam 13.00 waktu Turki, pesawat akhirnya mendarat di Bandar Udara Attaturk. Dan Sekitar jam 16.00 waktu setempat, kembali lagi terbang menuju kota AF. Setelah 5 jam mengudara akhirnya pesawat tiba di kota AF tepat jam 21.00 malam.

Suhu udara waktu itu sekitar 15 derajat celcius. Suhu yang biasanya membuat kucing-kucing mendekati perapian untuk menghangatkan diri.
Setibanya mereka dibandara, ketika hendak menuju wilayah perbatasan Turki – Suriah, mereka tidak menemukan satupun taxi untuk bisa mengantar mereka menuju perbatasan. Sayang sekali disana mereka sulit berkomunikasi dengan warga setempat. Ummu Sabrina mencoba berkomunikasi menggunakan bahasa inggris. Akan tetapi warga setempat yang ditemui mereka tidak cakap berkomunikasi dengan bahasa inggris. Tidak adanya taxi dan sulitnya berkomunikasi dengan warga setempat, membuat suasana hati menjadi gundah . Tidak ada yang bisa diandalkan. Mereka pun mencari bantuan ke sana kemari dengan menggunakan bahasa “tarzan”.

Akhirnya asa pun bangkit kembali ketika ada salah seorang warga setempat yang bersedia menghantarkan mereka dengan mobilnya. Si pemilik mobil memberi harga €50 atau sekitar 800 ribu rupiah untuk perjalanan menuju perbatasan. Rupanya si sopir memanfaatkan keadaan . Padahal tarif normal angkutan menuju ke perbatasan itu hanya sekitar 200 ribu rupiah. Demi sampai ke tujuan, mereka harus mengeluarkan kocek 800 ribu rupiah.

Yaa ikhwah…., Ummu Sabrina beserta keluarganya berangkat ke suriah secara independent. Seperti wisatawan yang melancong pergi ke luar negeri untuk berwisata.Tidak ada guide atau penunjuk jalan khusus dari Indonesia yang menyertai perjalanan nya.

Kecakapan berbahasa arab mereka pun sangat minim sekali. Bermodalkan tawakal dan semangat juang yang tinggi dan keinginan yang membatu, mereka berani menghadapi segala resiko yang akan mereka hadapi di perjalanan.

Ummu Sabrina pun singgah sejanak di sebuah hotel sederhana, tepatnya di wilayah dekat perbatasan. Sejenak beristirahat dari perjalanan panjang yang sangat melelahkan,sembari memikirkan langkah apa yang seharusnya mereka lakukan.

Di hotel sederhana itu, mereka mencoba menghubungi CP (Contact Person) untuk meminta bantuan. Berselang satu hari setelah Ummu Sabrina berhasil menghubungi CP, akhirnya perwakilan dari CP datang menjemput Ummu shabrina beserta keluarganya.

Ummu Sabrina beserta keluarganya dibawa ke sebuah tempat singgah muhajirin yang datang dari berbagai negara. Di tempat tersebut mereka bertemu dengan beberapa orang yang datang dari Belgia dan Maroko. Ummu Sabrina dan keluraga diistirahatkan sejenak di tempat tersebut sekaligus untuk bersiap-siap melewati perbatasan Turki-Suriah.

Malam pun semakin larut, angin yang berhembus kencang semakin menambah dinginnya malam. Musim salju baru saja berakhir. Salju-salju itu mulai mencair membasahi tanah. Suhu diperkirakan dibawah 10 derajat celcius.

Di pertengahan malam, ummu Sabrina dan muhajirin lainnya dibangunkan dari tidurnya untuk memulai perjalanan melewati perbatasan.

Rasa lelahnya pun tidak mereka hiraukan. Sembari menggendong putra bungsunya yang masih berusia belasan bulan, ummu Sabrina harus berjuang melewati perbatasan yang tidak lepas dari pantauan para penjaga yang dilengkapi senjata.

Ummu sabrina bersama sekitar 20-25 muhajirin dari negara lain mulai berjalan. Ya, ketika itu sangat nampak sekali perbedaan fisik antara muhajirin dari indonesia dengan muhajirin dari negara lain. Muhajirin Indonesia terlihat pendek jauh dibawah tingginya postur tubuh muhajirin lain nya.

Sementara itu, ransel berat yang digendong oleh Ummu Sabrina membuatnya berada di barisan paling belakang tertinggal jauh dari rombongan. Saat itu sang suami menggendong putra bungsunya, ditambah sebuah tas yang harus dibawa nya. Ia tidak bisa berbuat banyak melihat ummu shabrina terbebani oleh ransel yang cukup berat tersebut.

Melihat Ummu Sabrina yang berjalan terhuyung huyung, tertinggal jauh dari barisan, salah seorang ikhwan mengambil alih tas ransel yang cukup berat tersebut….

Bagaimanakah usaha para muhajirin dalam menembus perbatasan Turki – Suriah ?

Berhasilkah mereka malam tersebut ?
Nantikan kelanjutannya di bagian 4…. InsyaAllsh

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s