Tahukah Kamu?

Baiat dan Hubungannya dengan Permasalahan Syam (Bagian 2: Macam-Macam Baiat

Pasal Ketiga:
Bai’at Di Dalam Islam Dan Macam-Macam-nya.

Pendahuluan:
Setelah dilakukan penelusuran yang mirip tuntas terhadap bai’at-bai’at yang terjadi pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan setelah beliau wafat, saya melihat bahwa pembatasan bai’at terhadap bai’at ‘aammah yang mengikat seluruh kaum muslimin, atau bai’at khusus yang mengikat sebagian individu terhadap hal khusus, sebagaimana yang dikatakan oleh sebagian orang-orang masa kini, adalah

mengandung kekurangan di dalamnya karena bai’at itu kadang khusus dan mengikat semua orang dan sebaliknya juga begitu.

Jadi hukum terhadap bai’at semacam itu tergantung pada peninjauan rukun-rukunya di mana bai’at itu bisa terjadi dari seluruh orang dan bisa jadi dari kalangan khusus dan bisa terjadi terhadap urusan umum dan juga terhadap urusan khusus. Sehingga jumlahnya ada empat macam bai’at:
– Bai’at orang-orang khusus terhadap urusan umum.
– Bai’at seluruh orang terhadap urusan umum.
– Bai’at orang-orang khusus terhadap urusan khusus.
– Bai’at seluruh orang terhadap urusan khusus.

Dan setiap macam darinya ada beberapa bentuk yang akan kami sebutkan di tempatnya. Dan di saat saya mengatakan “terhadap urusan umum” maksudnya adalah bai’at imamah yang dilakukan terhadap assam’u wath thaa’ah, dan saat saya mengatakan “terhadap urusan khusus” maksudanya adalah bai’at terhadap urusan khusus.

Bai’at orang-orang khusus terhadap urusan umum

Yaitu bai’at Ahlul Halli wal ‘Aqdi kepada imam dan dengan bai’at ini kepemimpinan disematkan. Para ulama berselisih soal Ahlul Halli wal ‘Aqdi.
Di antara mereka ada yang mengatakan: “Sesungguhnya mereka itu orang-orang terpandang seperti para qadi, para panglima pasukan serta para pemilik harta dan ekonomi,”

Batasan ini tidak dianggap, karena pada umumnya saat ini negeri negeri yang ada dikuasai pemerintah kafir. Adapun para pemilik harta dan ekonomi hari ini kebanyakan orang-orang kafir dan fasik kecuali orang yang dirahmati Allah.

Dan di antara ulama ada yang mengatakan:”Ahlul Halli wal ‘Aqdi itu adalah ulama kaum muslimin.” Ini juga tidak dianggap karena orang-orang yang disebut ulama pada hari ini ada beberapa macam: Di antara mereka ada yang telah murtad dari millah dan agama ini. Ada juga orang-orang upahan sedang status minimal mereka itu adalah orang-orang yang zalim kepada diri mereka sendiri. Dan macam lain adalah orang yang ilmunya selamat dari kolusi akan tetapi sayangnya mereka itu jauh dari realita umat dan pada diri mereka ada kemalasan dan kelemahan serta mereka itu jumlahnya sedikit.

Dan adapun orang-orang yang dikatakan bahwa mereka itu ulama mujahidin, maka ada dua macam: Macam yang shalih dan macam yang rusak. Adapun yang shalih maka mayoritasnya ada di dalam penjara-penjara — semoga Allah membebaskan mereka.– Dan adapun yang rusak, maka mereka itu adalah Kalangan Neo Murjiah yang memasukan racun deradikalisasi dalam gerakan jihad ini. –Kami memohon hidayah kepada Allah buat mereka.–

Dan di antara mereka ada yang mengatakan: Ahlul Halli Wal ‘Aqdi itu adalah orang-orang yang memungkinkan dikembalikan kepada mereka urusan penanganan rasa takut, keamanan dan hal lainnya. Dan pendapat semacam ini juga orang yang mengatakan: Merekalah orang-orang yang diminta pertolongan pada saat lenggang dan saat genting.” Ini adalah ucapan yang bagus, akan tetapi susah menerapkannya pada dunia realita dan hal semacam ini hanya cocok pada kehidupan badui dan kabilah-kabilah.

Dan intinya Ahlul Halli wal ‘Aqdi itu adalah orang yang telah terkumpul pada diri mereka tiga hal: Keadilan yang sempurna lagi memenuhi syarat-syaratnya, mengetahui syarat-syarat imamah, dan cemerlang pikiran lagi bijak. (Lihat Hasyiyah Ad Dasuqiy hal 460, Al Mawardiy dalam al Ahkam as Sulthaniyyah hal 6).

Dan dalam hal ini diperhatikan juga orang-orang yang menonjol dari kalangan para pencari ilmu yang menganut aqidah dan manhaj salaf dan ahlu tsughur yang telah malang melintang di front-front pertempuran. Sedangkan selain mereka maka tidak dianggap sama sekali dalam urusan ini baik dalam pencopotan maupun dalam pengangkatan. Wallahu a’lam.

Telah mutawatir atsar-atsar yang menunjukan bai’at semacam ini, yaitu bai’at Ahlul Halli wal ‘Aqdi terhadap Imam, dan kami akan menuturkan sebagiannya:

Bai’at Ahli Saqifah terhadap Abu Bakar radliyallahu ‘anhu (tahun 11H) :

Terjadi setelah Al Anshar berkumpul di saqifah Bani Sa’idah dan kesepakatan mereka untuk mengangkat Sa’ad Ibnu Ubadah sampai akhirny Ash Shiddiq, Abu Bakar dan Abu Ubaidah mendatangi mereka kemudian mereka bersepakat untuk membai’at Abu Bakar radliyallahu ‘anhu, di mana bai’at saqifah itu asalnya bai’at khusus untuk pengukuhan Abu Bakar sebagai pemimpin sampai akhirnya dilakukan bai’at ‘aammah baginya di masjid Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Lihat Al Bidayah wan Nihayah 6/322).

Bai’at orang-orang khusus kepada Umar Ibnul Khaththab radliyallahu ‘anhu (tahun 13H)

Bai’at ini dilakukan oleh Kibar Shahabat. Pada waktu itu Utsman radliyallahu ‘anhu membacakan kepada mereka surat pengangkatan dari Abu Bakar radliyallahu ‘anhu). (Lihat Al Bidayah wan Nihayah 7/21).

Bai’at orang-orang khusus kepada Utsman radliyallahu ‘anhu (tahun 24H)
Dan itu setelah Umar radliyallahu ‘anhu menjadikan urusan kepemimpinan sebagai syura pada 6 orang, yaitu: Utsman Ibnu ‘Affan, Ali Ibnu Abi Thalib, Abdurrahman Ibnu ‘Auf, Sa’ad Ibnu Abi Waqqash, Thalhah Ibnu Ubaidillah, Az Zubair Ibnu Al ‘Awwam radliyallahu ‘anhum, kemudian urusan diwakilkan kepada Abdurrahman Ibnu ‘Auf untuk menjadikan kepemimpinan pada Ali atau Utsman radliyallahu ‘anhum ajma’iin, kemudian bai’atnya kepada Utsman secara khusus sebagai pengukuhan sebagai pemimpin. Kemudian para sahabat yang lainnya membai’atnya. (Lihat Al Bidayah wan Nihayah 7/155).

Bai’at orang-orang khusus kepada Ali radliyallahu ‘anhu (tahun 35H)
Bai’at itu asalnya dari Thalhah, Az Zubair dan Sa’ad radliyallahu ‘anhum dan sejumlah orang. Kemudian Ali radliyallahu ‘anhu keluar menuju masjid dan akhirnya manusia membai’atnya. (Lihat Al Bidayah wan Nihayah 7/242).

Begitu juga bai’at yang terjadi setelah masa khilafah. Pertama-tama oleh Ahlul Halli wal ‘Aqdi kemudian bai’at itu mengikat seluruh kaum muslimin. Dan dalam bai’at orang-orang khusus ini juga tidak disyaratkan berkumpulnya seluruh Ahlul Halli wal ‘Aqdi akan tetapi cukup sebagian mereka saja sebagaimana di Saqifah Bani Sa’idah terjalin bai’at dari sebagian sahabat kemudian ia mengikat semua.

Dan apa yang disebutkan oleh An Nawawiy dan yang lainnya berupa pensyaratan jumlah dalam Ahlul Halli wal ‘Aqdi adalah tidak dianggap dikarenakan bai’at itu sah dengan pembai’atan seorang saja sebagaimana ia sah dengan pembai’atan jama’ah.

Dikarenakan terdapat dalil di dalam apa yang dikatakan oleh Umar radliyallahu ‘anhu tentang kejadian Saqifah: ”Kita khawatir bila kita tinggalkan orang-orang itu (Al Anshar) sedangkan bai’at belum terlaksana (kita khawatir) mereka melakukan bai’at setelah kepergian kita,”

oleh sebab itu tatkala Umar mendengar Al Anshar berkumpul di saqifah maka ia bergegas bersama Abu Bakar dan Abu Ubaidah menuju mereka karena khawatir terjalin bai’at yang mengikat mereka untuk mengikutinya sesudahnya atau urusan kaum muslimin menjadi pecah dan terjadi kerusakan. Umar radliyallahu ‘anhu berkata: ”Bisa jadi kita membai’at mereka di atas ketidak relaan kita dan bisa jadi kita menyelisihi mereka sehingga terjadi kerusakan.”

Ini adalah dalil yang paling jelas yang menunjukkan bahwa tidak disyaratkan untuk keabsahan bai’at itu kehadiran seluruh Ahlul Halli wal ‘Aqdi. Dan dari uraian di atas kita bisa mengambil kesimpulan berikut ini:

– Pertama: Bai’at Ahlul Halli wal ‘Aqdi itu adalah mesti ada untuk keabsahan imamah dan tanpa bai’at mereka maka imamah tidak sah, kecuali dengan menguasai manusia dengan kekuatan yang menundukkan mereka dikarenakan barangsiapa yang bisa menguasai manusia dengan kekuatannya maka wajib ditaati dan dalam keadaan seperti ini tidak diharuskan keterpenuhan syarat-syarat imamah padanya. Ini dikarenakan yang menjadi tolak ukur adalah penolakkan kerusakan dan menghindari bahaya yang lebih besar dengan memikul yang paling ringan darinya.

– Kedua: Untuk keabsahan bai’at itu tidak disyaratkan keberadaan seluruh Ahlul Halli wal ‘Aqdi, dan juga tidak disyaratkan jumlah orang tertentu. Akan tetapi cukup sebagian mereka saja. Dalam hal ini Ibnu Taimiyyah berkata: ”Dan tidak diragukan bahwa ijma yang mu’tabar di dalam pengangkatan imamah itu adalah tidak dipengaruhi oleh keabsenan seorang, dua orang dan kelompok kecil darinya. Karena seandainya hal itu dianggap tentulah hampir tidak mungkin terjadi kesepakatan terhadap imamah. Seperti diketahui, imamah adalah hal yang harus. Bisa saja seseorang absen darinya karena hawa nafsu yang tidak diketahui, seperti absennya Sa’ad (Ibnu Ubadah) di mana beliau ini telah menginginkan untuk menjadi amir dari pihak Anshar namun hal itu tidak bisa dicapainya sehingga masih tersisa pada dirinya sisa hawa nafsu.” (Minhajussunnah 8/338).

An Nawawiy berkata: “Adapun bai’at, maka para ulama telah sepakat bahwa untuk keabsahannya itu tidak disyaratkan pembai’atan seluruh manusia dan tidak (disyaratkan) juga (pembai’atan) seluruh Ahlul Halli wal ‘Aqdi. Namun yang disyaratkan itu hanyalah pembai’atan orang-orang yang bisa tercapai kesepakatan mereka itu dari kalangan ulama, para pemimpin dan para tokoh masyarakat.” (Syarh Muslim 12/77).

Bai’at orang-orang umum terhadap urusan umum

Yaitu bai’at umum kaum muslimin kepada imam yang telah dibai’at oleh Ahlul Halli wal ‘Aqdi. Jadi ia adalah bai’at yang mengiringi bai’at orang-orang khusus. Dan yang dimaksud dengan umum kaum muslimin itu bukan maksudnya wajib atas setiap orang baik wanita maupun anak-anak dan yang lainnya, akan tetapi cukup persetujuan tokoh-tokoh masyarakat dari kalangan para saudagar, tokoh-tokoh masyarakat, para kepala suku, para pencari ilmu, mujahidin dan yang lainnya.

Telah mutawatir atsar-atsar yang menunjukan bai’at semacam ini, yaitu bai’at orang-orang umum kepada imam. Kami sebutkan sebagiannya:

Bai’at masyarakat umum kepada Abu Bakar radliyallahu ‘anhu (tahun 11H)

Dalam Ash Shahih dari Anas Ibnu Malik radliyallahu ‘anhu: ”Bahwa ia mendengar khutbah Umar yang terakhir saat duduk di atas mimbar, dan itu keesokan hari dari hari wafat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka Umar bertasyahhud sedangkan Abu Bakar diam tidak bicara, berkata: Saya dahulu berharap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masih hidup sehingga beliau mengatur kita – maksudnya ia menginginkan beliau itu yang paling akhir – bila Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam telah meninggal, maka sesungguhnya Allah Ta’ala telah menjadikan di tengah kalian cahaya yang dengannya kalian mengambil petunjuk dengan petunjuk yang Allah ajarkan kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dan sesungguhny Abu Bakar adalah yang selalu menemani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lagi salah satu dari dua orang (yang di dalam gua Tsaur). Sesungguhnya ia adalah orang yang paling layak memimpin kalian, maka bangkitlah kalian dan berikanlah bai’at kepadanya, sedangkan sekelompok dari mereka telah membai’atnya sebelum itu di Saqifah Bani Sa’idah, dan bai’at keumuman masyarakat adalah di atas mimbar.

Az Zuhriy berkata: Dari Anas Ibnu Malik berkata: Saya mendengar Umar berkata kepada Abu Bakar saat itu: “Naiklah ke atas mimbar,” dan umar terus membujuknya sampai akhirnya Abu Bakar naik ke atas mimbar kemudian manusiapun semua segera membai’atnya. (Riwayat Al Bukhari).

Bai’at semua orang kepada Al Faruq radliyallahu ‘anhu (tahun 13H)
Dan itu setelah penguburan Ash Shiddiq radliyallahu ‘anhu, maka kaum muslimin berduyun-duyun mendatanginya dan terus membai’atnya, kemudian Umar berdiri menyampaikan khutbah di tengah mereka, berkata: “Sesungguhnya Allah telah menguji kalian denganku, dan telah mengujiku dengan kalian setelah kepergian sahabatku, maka demi Allah tidak suatupun dari urusan kalian sampai kepadaku terus seseorang menanganinya tanpa izinku dan urusan itu tidak akan tidak menemui orang-orang jujur lagi amanah. Sungguh demi Allah seandainya mereka itu berbuat baik, maka aku akan berbuat baik kepada mereka, dan bila mereka berbuat buruk, maka benar-benar aku akan memberikan sangsi kepada mereka. Apa yang ada di hadapan kami, maka kami tangani langsung, dan apa yang jauh dari kami maka kami angkat untuk menanganinya orang-orang yang kuat dan amanah. Barangsiapa yang berbuat baik, maka kami menambahkannya, dan barangsiapa berbuat buruk maka kami memberikan sangsi kepadanya, dan semoga Allah mengampuni kami dan kalian…” (Lihat Ath Thabaqat 3/198).

Bai’at masyarakat umum kepada Utsman radliyallahu ‘anhu (tahun 24H)
Tahun ini dinamakan tahun Ru’af (mimisan) karena ia merebak di tangah manusia, dan Ahlu Syura masuk menemuinya sedangkan waktu Ashar telah masuk. Maka muadzdzin Suhaib mengumandangkan adzan dan mereka berkumpul di antara adzan dan iqamah, maka beliau keluar terus shalat dengan orang-orang, dan beliau memberikan tambahan kepada mereka seratus dan seratus lagi, dan penduduk berbagai negeri berdatangan, dan beliau adalah orang pertama melakukan hal itu, beliau naik mimbar sedangkan beliau adalah orang yang paling bersedih, maka beliau memberikan khutbah kepada manusia dan memberikan wejangan kepada mereka dan orang-orangpun menghampirinya seraya membai’atnya. (Lihatlah Al Kamil milik Ibnu Al Atsiir 3/79).

Bai’at masyarakat umum kepada Ali

Posted from WordPress for Android

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s